KITAINDONESIASATU.COM – Media massa terbesar asal China, Xinhua, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis pagi.
Kondisi tersebut disebut dipicu ketidakpastian global serta menguatnya data ekonomi Amerika Serikat yang membuat permintaan dolar AS meningkat tajam.
Dalam laporannya, Xinhua menyebut rupiah melemah sekitar 0,27 persen menjadi Rp18.015 per dolar AS. Sepanjang tahun 2026, nilai tukar mata uang Indonesia itu tercatat sudah turun lebih dari 7 persen.
Analis mata uang menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kuatnya data ketenagakerjaan dan sektor jasa AS.
Di sisi lain, sentimen pasar domestik dinilai masih cenderung lemah sehingga memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Pelemahan Rupiah Berdampak ke Dunia Usaha
Xinhua juga menyoroti dampak depresiasi rupiah terhadap dunia usaha Indonesia. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut banyak perusahaan mulai melakukan penghematan biaya hingga membekukan perekrutan tenaga kerja baru.
