Menurut hipotesis tersebut, konsumsi makanan ultra-olahan berpotensi memengaruhi lapisan pelindung usus.
Jika terjadi gangguan pada sistem tersebut, peradangan tingkat rendah yang berlangsung lama di tubuh mungkin saja ikut berperan dalam munculnya atau meningkatnya kerentanan terhadap depresi.
Hubungan ini sering dibahas dalam konteks sumbu usus-otak, yakni komunikasi dua arah antara sistem pencernaan dan otak.
Namun, mekanisme tersebut masih berupa hipotesis yang perlu dibuktikan melalui penelitian lebih besar. Studi kecil ini juga tidak cukup untuk membuktikan bahwa makanan ultra-olahan secara langsung menyebabkan depresi atau bahwa menguranginya pasti akan menyembuhkan gejala depresi.
Penelitian Lebih Besar Disiapkan
Para peneliti menilai hasil awal ini cukup menjanjikan untuk dilanjutkan, tetapi ukuran sampel hanya 20 orang membuat kesimpulannya belum bisa digeneralisasi ke semua orang.





