Hasil penelitian yang diberitakan ScienceDaily dengan mengutip publikasi di JAMA Psychiatry menunjukkan bahwa peserta memang mengalami perubahan pada sejumlah ukuran gejala depresi.
Peneliti utama, Dr. Andrew Kristal, profesor bidang psikiatri, ilmu perilaku, dan neurologi di UCSF, menyebut penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan ini layak diuji lebih lanjut dalam penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar.
Dalam penelitian tersebut, konsumsi makanan ultra-olahan para peserta turun lebih dari 85 persen.
Setelah perubahan itu, mereka menunjukkan perbaikan dari tingkat sedang hingga signifikan pada tiga ukuran gejala depresi yang digunakan peneliti.
Sementara itu, perubahan pada skor kecemasan tergolong lebih kecil.
Apa yang Dimaksud Makanan Ultra-Olahan?
Makanan ultra-olahan umumnya merupakan produk yang telah melalui berbagai tahap pengolahan industri dan sering kali mengandung sejumlah bahan tambahan.





