Contohnya antara lain makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, minuman berpemanis, serta berbagai produk makanan dan minuman siap konsumsi.
Sebagian produk tersebut dapat mengandung pengawet, pewarna, penambah rasa, pemanis atau bahan tambahan lain yang membuat makanan lebih praktis dan memiliki rasa yang kuat.
Mengapa Sulit Mengurangi Makanan Ultra-Olahan?
Mengubah kebiasaan makan ternyata tidak selalu mudah. Dr. Nyasha Chagwedera, peneliti sekaligus asisten profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku UCSF, menilai ada beberapa faktor yang membuat makanan ultra-olahan sulit ditinggalkan.
Rasanya yang menarik, harga relatif murah, serta kemudahan untuk langsung dikonsumsi menjadi sejumlah alasan.
Menurutnya, makanan dengan kombinasi gula, garam, dan lemak tertentu juga dapat mendorong seseorang untuk terus menginginkannya. Sistem penghargaan di otak yang melibatkan dopamin turut dikaitkan dengan dorongan tersebut.





