Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kandungan gizi dan jenis bahan pangan perlu diperhatikan ketika menilai pola makan. Tingkat pengolahan saja tidak selalu dapat menggambarkan seluruh karakteristik makanan.
Meski begitu, hasil penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa produk biji-bijian atau susu ultra-olahan secara langsung mencegah kanker. Temuan itu menunjukkan hubungan statistik, bukan kepastian sebab-akibat.
Mengganti 10 Persen Asupan Dikaitkan dengan Penurunan Risiko
Peneliti juga menganalisis kemungkinan perubahan risiko ketika sebagian makanan ultra-olahan diganti dengan makanan yang lebih sedikit diproses.
Hasilnya, mengganti 10 persen asupan makanan ultra-olahan berdasarkan berat dengan makanan yang kurang diolah dikaitkan dengan penurunan risiko kanker kolorektal sekitar 2 persen.
Namun, angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Penelitian ini tidak membuktikan bahwa perubahan pola makan tersebut secara langsung menyebabkan penurunan risiko kanker.
Hasilnya juga tidak berarti semua makanan ultra-olahan memiliki dampak yang sama. Jenis makanan yang dikonsumsi, komposisi gizinya, serta pola makan secara keseluruhan tetap menjadi hal penting untuk diperhatikan.





