Kondisi kesehatan para peserta kemudian dipantau hingga 2018, dengan masa tindak lanjut rata-rata mencapai 18,8 tahun. Para peneliti mempelajari hubungan antara kebiasaan makan peserta dan kejadian kanker kolorektal selama periode tersebut.
Makanan ultra-olahan sendiri merupakan kategori yang sangat luas. Kelompok ini mencakup beragam produk dengan bahan, komposisi, dan kandungan gizi yang berbeda-beda.
Karena itu, menggabungkan seluruh produk tersebut dalam satu kelompok dapat menyulitkan peneliti ketika ingin mengetahui jenis makanan mana yang berkaitan dengan risiko penyakit tertentu.
Tidak Semua Makanan Ultra-Olahan Menunjukkan Hubungan yang Sama
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah tidak ditemukannya hubungan secara keseluruhan antara konsumsi makanan ultra-olahan dalam jumlah tinggi dan peningkatan risiko kanker kolorektal.
Namun, analisis berdasarkan jenis makanan memperlihatkan gambaran yang lebih beragam.
Konsumsi lebih tinggi produk biji-bijian utuh ultra-olahan dan produk susu tertentu dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah. Sebaliknya, konsumsi daging ultra-olahan dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi.





