KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pernyataan mengejutkan dengan mengungkap bahwa Washington dan Teheran telah menandatangani kesepakatan awal perdamaian yang berpotensi mengubah peta geopolitik dunia. Trump bahkan optimistis Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia, akan kembali dibuka sepenuhnya untuk aktivitas komersial mulai Jumat (19/6).
Dalam pertemuan bilateral bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menjelang KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Senin (15/6), Trump menyebut kawasan Timur Tengah sedang berada di ambang perubahan besar. Ia menegaskan dampak paling nyata dari kesepakatan tersebut adalah potensi anjloknya harga minyak dunia dan lonjakan tajam pasar saham global.
“Saya kira banyak hal luar biasa akan terjadi di Timur Tengah. Yang paling penting, harga minyak turun signifikan dan pasar saham melesat seperti roket,” ujar Trump.
Meski demikian, optimisme Trump belum sepenuhnya sejalan dengan pandangan sejumlah pejabat AS. Seorang pejabat senior yang enggan disebut namanya menilai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kemungkinan belum akan pulih sepenuhnya dalam dua pekan ke depan.
Trump mengungkapkan bahwa draf nota kesepahaman dengan Iran kemungkinan akan dipublikasikan dalam waktu dekat setelah penandatanganan resmi kedua negara di Swiss pada 19 Juni mendatang. Dalam dokumen tersebut, Selat Hormuz disebut akan dibuka tanpa pungutan biaya bagi kapal-kapal yang melintas, meski Washington menegaskan tidak akan melonggarkan sanksi terhadap Iran sebelum seluruh kewajibannya dipenuhi.
Sehari setelah mengumumkan penghentian permusuhan dan pembukaan kembali jalur maritim strategis tersebut, Trump kembali menekankan satu syarat utama yang tidak bisa ditawar, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Menurut pejabat senior AS, memorandum awal itu telah ditandatangani oleh Trump, Wakil Presiden J.D. Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang memimpin delegasi negosiasi Teheran. Kesepakatan tersebut secara eksplisit mengatur pembukaan Selat Hormuz selama 60 hari tanpa biaya tol, sebagai langkah awal menuju perjanjian permanen.
Vance mengonfirmasi bahwa dokumen tersebut telah ditandatangani secara digital pada Minggu (15/6). Setelah itu, kedua negara akan memasuki fase negosiasi teknis selama 60 hari untuk membahas isu-isu sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran.
Meski proses diplomatik berjalan, Washington belum berniat mengurangi kekuatan militernya di Timur Tengah. Pemerintah AS menegaskan pasukan tambahan yang telah dikerahkan sejak Februari tetap akan dipertahankan hingga ada kepastian bahwa Iran mematuhi seluruh komitmennya.
Penutupan Selat Hormuz sebelumnya telah mengguncang pasar energi global. Jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional itu selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut memicu lonjakan harga energi, meningkatkan tekanan inflasi, dan menjadi perhatian serius menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat.
Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi target utama pemerintahan Trump dalam negosiasi dengan Teheran. Jika kesepakatan ini benar-benar berjalan mulus, dunia bisa menyaksikan perubahan besar pada harga energi, stabilitas ekonomi global, hingga dinamika politik Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan. (Sumber: Kyodo)

