Kesehatan

5 Fakta Kasus ISPA dan Influenza di Jember, Balita Jadi Kelompok Paling Rentan

×

5 Fakta Kasus ISPA dan Influenza di Jember, Balita Jadi Kelompok Paling Rentan

Sebarkan artikel ini
i 6 Tindakan yang Perlu Dilakukan untuk Cegah Penularan
Fakta Kasus ISPA dan Influenza di Jember (Pexels)

KITAINDONESIASATU.COM – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan influenza di Kabupaten Jember menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena penularan tercatat terjadi di berbagai kelompok usia, dengan balita menjadi kelompok yang paling banyak terlaporkan.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Jember mencatat 348 kasus ISPA dan 21 kasus influenza selama pemantauan empat pekan terakhir. Kenaikan kasus terpantau sejak pertengahan Agustus hingga pertengahan September 2026.

Lima Fakta ISPA dan Influenza di Jember

Berikut sejumlah fakta terkait peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan di Jember:

  1. Tercatat 369 kasus
    Gabungan kasus ISPA dan influenza yang terdata mencapai 369 kasus dalam pemantauan empat pekan terakhir. Laporan terbanyak muncul dalam dua pekan terakhir.
  2. Balita paling banyak terpapar
    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Jember dr. Rita Wahyuningsih menyebut balita menjadi kelompok yang paling banyak mengalami penularan. Kondisi tersebut berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh anak yang masih berkembang.
  3. Penularan dapat terjadi melalui droplet
    ISPA dan influenza dapat menyebar melalui percikan air liur ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin tanpa perlindungan. Risiko penularan meningkat ketika aktivitas dilakukan di ruang bersama.
  4. Layanan kesehatan diperkuat
    Dinkes PPKB Jember meningkatkan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila jumlah pasien terus bertambah.
  5. Pemantauan dilakukan secara digital
    Perkembangan kasus dipantau melalui sistem pelaporan harian. Data tersebut digunakan untuk melihat perubahan jumlah penderita dan membantu menentukan langkah antisipasi di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *