Tubuh juga menjadi lebih peka terhadap gangguan dari lingkungan, seperti suara bising, cahaya, maupun perubahan suhu ruangan. Karena itu, seseorang bisa saja tidur cukup lama tetapi tetap bangun dengan tubuh terasa lelah dan kurang segar.
3. Penyakit kronis dan efek obat-obatan
Risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, radang sendi, refluks asam lambung, hingga penyakit jantung meningkat pada usia paruh baya. Berbagai keluhan, mulai dari nyeri, sesak napas, hingga sering buang air kecil pada malam hari, dapat mengganggu waktu istirahat.
Selain penyakitnya, beberapa jenis obat juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Obat diuretik, misalnya, dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil pada malam hari. Sementara itu, sebagian obat antidepresan, kortikosteroid, maupun obat tekanan darah berpotensi membuat seseorang sulit terlelap atau lebih sering terbangun.
4. Risiko gangguan tidur semakin tinggi
Berbagai gangguan tidur juga lebih sering muncul pada usia paruh baya. Salah satunya adalah obstructive sleep apnea atau henti napas saat tidur, yang membuat penderitanya berkali-kali terbangun tanpa disadari sehingga tetap mengantuk pada siang hari.
Selain itu, sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome) dan gangguan gerakan kaki saat tidur juga dapat menurunkan kualitas tidur karena membuat seseorang sulit beristirahat dengan nyaman.

