KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dan sekutunya terkait konflik di Selat Hormuz yang makin berbahaya.
Dalam pernyataan mengejutkan pada Sabtu (9/5), Angkatan Laut IRGC memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap tanker minyak atau kapal dagang milik Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran ke pangkalan AS dan kapal-kapal musuh di kawasan tersebut.
“Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap pusat Amerika dan kapal musuh di wilayah ini,” tegas pernyataan IRGC seperti dilaporkan media Iran.
Situasi makin mencekam setelah Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, mengklaim rudal dan drone Iran kini sudah dikunci ke target musuh dan tinggal menunggu perintah peluncuran.
Ancaman itu muncul di tengah pengerahan kapal perang Inggris ke Timur Tengah. Pemerintah Inggris disebut telah menyiapkan kapal perusak HMS Dragon untuk kemungkinan operasi multinasional menjaga jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz yang kini menjadi titik panas dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan minyak global. Konflik di kawasan ini memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan energi dunia dan potensi perang regional yang lebih luas.
Ketegangan pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan serangan ke Israel serta sekutu AS di kawasan Teluk, yang berujung pada terganggunya lalu lintas di Selat Hormuz.
Meski sempat tercapai gencatan senjata lewat mediasi Pakistan pada 8 April, upaya damai gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Situasi semakin rumit setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang blokade maritim terhadap Iran tanpa batas waktu.
Bahkan sejak 13 April, militer AS terus memperketat blokade angkatan laut dengan menargetkan jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz. Trump juga menghentikan sementara Project Freedom, operasi yang sebelumnya diklaim untuk menjaga kebebasan navigasi kapal dagang di kawasan tersebut. (Sumber: Anadolu)

