“Sesuai dengan anjuran Pemerintah, kami akan membuka cabang di AS pada 1986,” ujar Mu’min Ali Gunawan.
Mu’min juga memiliki sejumlah perusahaan lain di antaranya, Pan Union Insurance, Panin Putra Life Insurance, perusahaan real estate Green Ville dan Green Garden, dan Clipan Leasing (patungan).
Pada 1985, Bank Panin terus menanjak tercatat memiliki nilai total aktiva seluruh perusahaan mencapai Rp 500 milyar.
Sebagai bankir, Mu’min tentu pernah mengalami kemunduran juga. Pada tahun 1986, posisi Panin Bank mengalami kemerosotan bahkan dinilai dalam kondisi yang tidak sehat oleh Bank Indonesia.
Dalam rangka memperbaiki kondisi tersebut, kedudukan eksekutif tertinggi terpaksa dipercayakan kepada orang lain.
Hingga pada akhir tahun 1988, Mu’min Ali Gunawan bersama Prijatna Atmadja kembali dipercaya sebagai pimpinan Panin Bank, setelah melalui kemelut pengalihan sebagian saham kepada Yan Darmadi.
Mu’min mengaku memakai sistem manajemen “campuran” antara model Jepang, Eropa, dan Amerika.
Yang terpenting bagi perusahaan besar, katanya, ialah kebebasan berkomunikasi dua arah, antara atasan dan bawahan.
Terhadap langganan ia juga terbuka, mau menerima siapa saja yang ingin menemuinya. “Bagaimana mungkin bank Anda disukai masyarakat, jika Anda sendiri enggan menjumpai mereka?” kata bankir yang belum mau disebut “sukses” itu.


