KITAINDONESIASATU.COM – Peluang ekspor porang pada tahun 2026 ini sangat menjanjikan, adanya permintaan global untuk produk olahan porang, seperti konjac chips dan tepung, melonjak tajam karena tren pangan sehat.
Ekspor komoditas ini telah menembus pasar internasional—seperti China, Jepang, dan Eropa, dengan nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah.
Pasar global lebih menyukai produk turunan setengah jadi (seperti chips atau tepung glukoman) dibandingkan umbi mentah, permintaan untuk industri pangan sehat, kosmetik, dan farmasi terus bertumbuh pesat.
Nilai ekspor sangat fantastis, contohnya, ekspor konjac chips asal Sumedang sebanyak 22,8 ton berhasil mencetak devisa hingga Rp2,1 miliar ke China.
Di daerah di sekitar di Jawa Timur, seperti Madiun dan Trenggalek PT Fantastic Natural Konjac, telah menjadi pusat utama pengembangan industri pengolahan porang di kawasan ini.
Saat ini, harga porang di pasar bebas di tingkat petani ke pengepul atau pabrik berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp11.800 per kilogram untuk umbi basah berdasarkan data per Mei 2026.
Harga ini bervariasi tergantung wilayah, ukuran umubi dan kadar air, sementara harga untuk chips porang (kering) mencapai Rp55 ribu, dalam bentuk serpihan ubi sudah kering melalui mesin atau matahari siap ekspor.
Sedangkan beras porang (hilir) harga mencapai Rp180 ribu – Rp200 ribu berupa produk olahan akhir pangan sehat yang dijual di retail modern.
Sementara harga porang di wilayah Kecamatan Ngrayun Ponorogo saat ini mencapai Rp12 ribu per kg dibanding harga sebelumnya yang mengalami anlok hingga harganya mencapai kisaran Rp2 ribu per kg.
Seorang petani di porang di Desa Baosan Lor, Darmawan menjelaskan harga porang pernah mengalami titik terdalam harganya anjlok hingga kisaran Rp1.8 ribu hingga Rp2 ribu per kilogram.
“Sekarang harga sudah naik kembali, bahkan mencapai Rp12 ribu kg dan harganya relatif stabil,” ujar Darmawan seperti dilansir gemasuryafm.com, Minggu (24/5/2026).
Darmawan mengatakan produksi porang dari masyarakat bisa mencapai 9 kuintal setiap kali panen, tergantung perawatan.
Sementara petani prang lainnya dari Desa Mrayan, Haryoko mengaku senang adanya kenaikan harga porang saat ini, sayangnya jumlah petani porang saat ini lebih sedikit.
Para petani tidak lagi melakukan budidaya porang lantaran saat itu porang tidak ada harganya, sehingga banya warga yang tidak lagi menanam porang, jumlah petani prang pun menurun di banding sebelumnya. **

