KITAINDONESIASATU.COM – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah selama 24 jam di pasar global, meskipun pasar domestik tengah libur panjang.
Langkah ini diambil menyusul pelemahan rupiah di pasar offshore yang sempat menembus level Rp17.800 per dolar AS, bahkan tercatat menyentuh Rp17.883 berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) saat libur Idul Adha 1447 Hijriah.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa bank sentral terus hadir di pasar untuk menjaga kestabilan rupiah around the clock atau sepanjang waktu.
“Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (29/5).
BI menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, serta meningkatnya kebutuhan valas secara musiman.
Kebutuhan tersebut mencakup pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS dinilai masih terbatas.
Untuk meredam tekanan, BI mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui berbagai instrumen, termasuk Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Bank sentral turut memperkuat kebijakan moneter dengan menata struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik bagi investor asing dan mendukung aliran modal masuk.
Di sisi lain, BI juga memperketat aturan transaksi pembelian valas tanpa underlying, dengan batasan maksimal 25.000 dolar AS per bulan per pelaku yang akan diberlakukan mulai Juni 2026.
Ramdan menegaskan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait dan memantau perkembangan pasar global maupun domestik. (*)

