Opini Kita

Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman

×

Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman

Sebarkan artikel ini
Gunung Tilu
Dok: IG @muchorik_nafiana

KITAINDONESIASATU.COM – . Secara umum isi cerita dalam kumpulan carpon Pupuhu di Gunung Tilu yang merupakan karya dari Hanna Djumhana Bastaman (H.D Bastaman) menggunakan pola percakapan sehari-hari yang menarik untuk dibaca anak-anak masa kini. Carpon ini memuat karya mimesis yang ciri utamanya adalah menceritakan kisah-kisah yang tidak mungkin ada dalam kehidupan nyata.

Secara sederhana koleksi carpon Pupuhu di Gunung Tilu mengungkapkan hal-hal mistis yang masih diyakini masyarakat khususnya masyarakat Sunda Kuno. Isi carpon ini terbagi menjadi tujuh bagian yang masing-masing menggambarkan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan hal gaib dan menyindir hal-hal keagamaan melalui dua tokoh utama, yaitu Ki Sarnem dan Juragan Wira.

Isi cerita dalam carpon Pupuhu di Gunung Tilu ini masih relevan hingga sekarang, karena masih banyak masyarakat yang mempercayai hal-hal mistis. Ilmu tasawuf atau yang berkaitan dengan ilmu gaib biasanya diyakini oleh masyarakat untuk membantu atau mewujudkan keinginan duniawinya, ilmu tasawuf juga berkaitan dengan jin atau roh gaib yang dipercaya mampu membawa kekayaan dan kesuksesan yang dicari oleh manusia.

Mistisisme dalam carpon Pupuhu di Gunung Tilu ini semakin jelas dan kentara ketika H.D Bastaman menyebutkan ilmu mistik seperti Sambernyawa, Gulungtambang, Wedusbusung, Teluhbajra dan menjelaskan bagaimana tokoh Ki Sarnem menerapkan ilmu yang dimilikinya. Fokus pertamanya tertuju pada Juméd, putranya Ki Sarnem yang mendengar langsung cerita ayahnya yang mempunyai julukan ‘juru teluh jagat pakidulan’. Ki Sarnem mendengar bahwa Juméd mempunyai keinginan untuk tinggal di Gunung Tilu, yang kini dikuasai oleh Juragan Wira.

Walaupun Ki Sarnem mempunyai banyak ilmu dan sudah kuat, biasanya ia selalu berusaha untuk bersikap baik kepada orang lain, seperti misalnya ke Juragan Wira. Disini H.D Bastaman merepresentasikan sifat-sifat manusia yang tidak bisa puas dengan apa yang dimilikinya, serakah dan kurang bersyukur. Selain itu, digambarkan pula bagaimana sikap orang tua yang berusaha memenuhi apa yang diinginkan anaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *