Opini Kita

Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman

×

Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman

Sebarkan artikel ini
Gunung Tilu
Dok: IG @muchorik_nafiana

… halaman 4 “Pupuhu di Gunung Tilu”

Iri hati adalah emosi yang muncul ketika seseorang tidak memiliki kekuatan dan menginginkan apa yang tidak dimilikinya, serta mengharapkan orang lain yang memilikinya akan kehilangan. Betrand Russel, filsuf peraih Nobel Sastra, mengatakan bahwa rasa iri adalah salah satu penyebab utama orang tidak bahagia.

Russel juga mengutarakan, penyebab utama adanya rasa iri adalah ketidakstabilan status sosial yang banyak terjadi di zaman modern seperti saat ini.  Juméd iri pada Juragan Wira yang mempunyai Gunung Tilu hingga membuat Ki Sarnem berbuat apa saja agar dapat menuruti keinginan putranya, sehingga membuat semua kejadian tidak mengenakkan menimpa dirinya.

Perbedaan status sosial antara Ki Sarnem dan Juragan Wira sangat jelas terlihat jika kita mengkaji keseluruhan ceritanya. Salah satunya, setelah Juméd meninggal, segala kebutuhan hidup dan makanan diantarkan kepada Ki Sarnem oleh Juragan Wira, melalui Sairin.

Singkatnya, Ki Sarnem tidak memperbaiki diri dan bertobat atas segala kelakuan salahnya, namun ia malah semakin iri. Alhasil, menurutnya ia tidak iri, namun ia juga menyalahkan Juragan Wira atas kematian Jumed mati. Hingga Ki Sarnem rela pergi di malam hari agar dapat menanamkan *salaknya di sepanjang jalan menuju rumah Juragan Wira.

Niat hati ingin mengungkap Sang Pahlawan Master, dialah yang menyedihkan. Misalnya jika dilihat melalui teori psikologi sastra Carl Gustav Jung, perilaku Ki Sarnem merupakan salah satu contoh perilaku bayangan, yaitu sifat atau perilaku kebinatangan yang dimiliki manusia, bersifat arketipe, spontanitas, dan mempunyai unsur kreatif. Bayangan dapat menimbulkan perilaku buruk yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat dipengaruhi oleh ego.

Bayangan tersebut bisa muncul dalam beberapa bentuk, seperti pikiran buruk, keinginan untuk mencelakakan orang lain, dan lain-lain. Bayangan yang bertentangan dengan egonya disebabkan oleh kelakuan Ki Sarnem yang hanya mempunyai keinginan untuk mengkhianati si protagonis. Sedangkan bayangan yang bersandingan dengan ego dapat mengendalikan kekuatan bayangan tersebut agar tidak mengekspos dirinya dan orang lain dalam hidup, hal ini tergambar dari sikap protagonis yang taat kepada Tuhan, sabar serta tetap bisa bersikap baik hati kepada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *