Opini Kita

Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman

×

Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman

Sebarkan artikel ini
Gunung Tilu
Dok: IG @muchorik_nafiana

… halaman 3 “Pupuhu di Gunung Tilu”

Agak membingungkan di bagian ini, awalnya Ki Sarnem sangat ingin memenuhi keinginan anaknya, namun dia tahu resiko anaknya bisa menjadi tumbal tapi kenapa masih dilanjutkan? Pertanyaannya, bukankah Ki Sarnem menyayangi anaknya? Bukankah rasa cinta itu lebih besar dari keinginan untuk memenuhi keinginan anak? Ini adalah pertanyaan yang tidak akan terjawab sampai cerita berakhir.

Sungguh menyedihkan, Juméd dibawa sebagai tumbal oleh Ratu yang meminta syarat itu. Kejadian tersebut bermula saat Sairin yang tidak menyadari bahwa jimat pemberian Juméd terjatuh saat dirinya akan belajar mengaji dengan Nyi Enah, anak dari Juragan Wira. Disaat Sairin sedang mencari, tiba-tiba Cicih dan Iting panik karena Cicih merasa badannya gatal.

Gemetar melihat itu, Mang Tolib dan Mang Ijo menyadari bahwa itu bukanlah jimat melainkan santet dari seseorang yang mempunyai niat buruk terhadap keluarga Juragan Wira. Mang Ijo menyarankan agar benda itu dibacakan Surah Yasin untuk melihat siapa pengirimnya, sedangkan Mang Tolib menyarankan sebaiknya dibakar agar bisa kembali pada pengirimnya. Juragan Wira tidak melakukan saran mereka berdua, karena Tuhan mengabulkannya.

Buah dari kesabaran dan kebaikan hati Jurangan Wira sungguh dibalas oleh Tuhan dengan menjaga keluarganya dari segala kekuatan orang-orang yang dengki. Sesaat sebelum Juméd meninggal mendadak, Juméd menjulurkan lehernya, matanya terbelalak, lidahnya menjulur dan berbusa seperti orang sekarat dan lehernya bengkok seperti tercekik. Mendengar kabar bahwa Juméd meninggal dunia, Juragan Wira menjadi orang pertama yang bergegas ke Pasir Noggeng dan mempersiapkan segala keperluan untuk mengurus jenazah Juméd.

Kebaikan hati Juragan Wira mengetuk hati Ki Sarnem, padahal sebelumnya sempat akan Ia habisi nyawanya. Sikap Juragan Wira sekeluarga yang berhati bersih, tidak hanya baik secara lahir, namun juga bathinnya sebagaimana nilai inti yang diungkapkan penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *