… halaman 5 “Pupuhu di Gunung Tilu”
Selain kaya akan observasi kehidupan, dalam carpon Pupuhu di Gunung Tilu H.D Bastaman juga bercerita tentang domestikasi perempuan, yaitu keadaan dimana perempuan diberikan porsi untuk mengurus urusan rumah tangga saja, seperti bersih-bersih, mengasuh dan mendidik anak, dan lain-lain. Hal tersebut terlihat dari istrinya Juragan Wira dan Nyi Enah yang hanya sebagai guru mengaji, tidak pernah bepergian, hanya mengurus dan membersihkan rumah saja.
Di era sekarang ini dianggap ketidak-setaraan gender, dimana perempuan tidak bisa bekerja di ranah publik, sedangkan urusan rumah tangga apapun dianggap sudah menjadi kodrat perempuan. Padahal kodrat perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui, serta mengurus urusan rumah tangga dibentuk oleh budaya dan sosial oleh masyarakat patriarki.
Konstruksi sifat feminin dan maskulin itulah yang merupakan efek awal dari dikotomi peran yang harus dilakukan, khususnya oleh perempuan. Perempuan dianggap pantas untuk berperan di ranah domestik, seperti mencuci, menyetrika, membesarkan anak yang sejalan dengan ciri-ciri perempuan feminin.
H.D Bastaman dalam carpon Pupuhu di Gunung Tilu menyampaikan pesannya secara implisit melalui keseluruhan cerita, seolah menyuruh pembaca untuk menafsirkan sendiri, mengikuti dirinya sendiri, dan ditimbang oleh perasaan yang muncul setelah membaca isinya.
Dalam carpon Pupuhu di Gunung Tilu, pesan yang disampaikan tidak utuh seperti orang tua yang menasihati anaknya, melainkan melalui perasaan yang disampaikan H.D Bastaman melalui ‘suara’ yang terekam dalam keseluruhan cerita. Melalui tokoh Ki Sarnem dan Juragan Wira, penulis menyampaikan nilai, bahwa tidak ada salahnya menjadi orang baik.
Pada bagian akhir diceritakan bahwa Ki Sarnem masih mempunyai niat buruk namun terus terpuruk pada dirinya sendiri, padahal Juragan Wira yang paling bersemangat membantu, yang sempat membuat hati Ki Sarnem mulai luluh. Tapi apakah benar hati Ki Sarnem luluh pada saat itu? Mengapa Anda harus mengalami hal buruk lebih dari satu kali karena perbuatan Anda sendiri? Semuanya akan tetap ada, baik ataupun buruk.
Itulah tadi rangkuman dari isi Carpon Pupuhu di Gunung Tilu atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Ketua di Gunung Tiga, semoga dapat menambah wawasan dan informasi bagi para pembaca. Khususnya bagi yang tidak memahami sastra Sunda, artikel ini dapat menjadi alternatif untuk memberikan gambaran singkat isi dari carpon Pupuhu di Gunung Tilu.
Baca juga: Carpon JODO Karya Eli Rusli: Kajian Teori Cinta Segi 3 oleh Robert J. Sternberg
Oleh: Tri Harunnisya
Penyunting: BiiHann ^^
