Perilaku Mimin dengan mengajak temannya untuk menemaninya menonton bersama Pak Sam menunjukan bahwa Mimin berkomunikasi secara intim kepada Ardi. Meskipun pada saat itu Mimin belum mendapatkan kabar dari Ardi, bahkan ia belum tahu bagaimana kelanjutan hubungannya bersama Ardi, tetapi ia tetap memilih bersikap jujur untuk tidak pergi berdua saja dengan Pak Sam, dengan mengajak Diah sebagai teman kantornya untuk menemaninya.
Terakhir, Menghargai orang yang dicintai, menurut Sternberg pasangan yang memiliki elemen ini akan menganggap orang yang dicintainya sebagai sesuatu yang berharga melebihi apapun bahkan pasangannya tersebut menjadi bagian dari rencana hidupnya. Manifestasi dari elemen ini adalah para pasangan menyadari bahwa orang yang dicintainya saat ini sangatlah berharga.
“Kanyaah urang tara kungsi saat nepi ka setatus mahasiswa ilang. Ngaran anjeun seungit katulis dina kaca ucapan terima kasih tugas ahir kuring.”
“Rasa sayang saya tidak pernah menghilang sampai status mahasiswa berakhir. Nama anda harum tertulis di lembar ucapan terima kasih tugas akhir saya”.
(Jodo, 2022: 50)
Mimin menghargai Ardi sebagai pasangannya salah satunya dengan menyantumkan nama Ardi pada lembar ucapan terima kasih tugas akhirnya sebelum ia lulus dan status mahasiswanya berakhir. Mimin menuliskan nama Ardi sebagai bentuk terima kasihnya karena Ardi sudah menjadi pasangannya dari awal memasuki bangku kuliah hingga ia lulus, Mimin menuliskan pada halaman tersebut karena ia ingin nama Ardi terus ada hingga nanti.
Hasrat atau Gairah
Komponen hasrat atau gairah ini meliputi berbagai gairah dan kebutuhan yang meliputi, dominasi, kepatuhan, harga diri, hingga kepuasan seksual yang timbul dari kebutuhan dan gairah fisiologis dan psikologis.
“Min! Mimin téh anak bapa panggedéna. Umur geus nincak 27 taun. Geus pantes rumah tangga. Bapa hayang pisan nyakséni Mimin dirapalan”.
“Enya Min. Ema gé sarua teu sabar hayang mangku incu. Tuh tingali babaturan ulin manéh. Kabéh geus karawin. Baheula ema kawin ka bapa umur 19 taun.” Ema milu mairan.
“Min! Mimin itu anak Bapak yang paling besar. Umurnya sudah 27 tahun. Sudah pantas berumah tangga. Bapak ingin sekali melihat Mimin menikah”.
“Iya Min. Ema juga sama tidak sabar ingin menggendong cucu. Tuh lihat teman main kamu. Semuanya sudah pada menikah. Dulu Ema dan Bapak menikah pada umur 19 tahun”.
(Jodo, 2022: 51)
Percakapan diatas menunjukan bahwa orang tuanya Mimin sedang mendominasi Mimin untuk cepat-cepat menikah karena umur Mimin dianggap sudah cukup matang untuk menikah dan membangun rumah tangga serta dibandingkan dengan teman sebayanya yang hampir seluruhnya sudah berumah tangga.
“Ceuk Bapa mah daripada nganti nu can tangtu. Kumaha lamun réréndéngan jeung Pa Sam? Anjeunna jelema bageur. Gawé geus manteb. Imah katut kandaraan boga. Naon deui nu ditéangan? Anjeunna ogé tacan kungsi kawin” bapa neuteup paroman kuring.
“Menurut Bapak daripada menunggu yang tidak pasti. Bagaimana apabila dengan Pak Sam? Dia orang yang baik. Pekerjaannya sudah baik. Rumah beserta kendaraannya sudah dimiliki. Apalagi yang dicari? Dia juga belum pernah menikah” Bapak menatap kepada saya.
(Jodo, 2022: 51)
Percakapan antara Bapak dengan Mimin diatas menunjukan adanya keinginan untuk dipatuhi. Bapak menawarkan Mimin untuk mencoba menjalin hubungan dengan Pak Sam dengan tujuan agar anaknya tersebut segera menikah dan berumah tangga. Ibu dan Bapak memiliki hasrat yang sama agar anaknya Mimin segera menikah.

