KITAINDONESIASATU.COM – Dalam rangka mengoptimalkan potensi sumber daya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, tim dosen dan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa TIMUR menggelar pengabdian masyarakat.
Kegiatan digelar di pesisir Gunung Anyar, Surabaya, bertema Teknik Produksi dan Standarisasi Produk Teh Daun Mangrove melibatkan masyarakat sekitar dalam pelatihan pengolahan dan standarisasi produk teh herbal dari daun mangrove.
Sebagai negara dengan hutan mangrove terluas di dunia, Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya untuk produk olahan.
Salah satu jenis tanaman mangrove, Rhizophora mucronata, diketahui memiliki kandungan bioaktif seperti tanin, flavonoid, dan antioksidan yang sangat baik untuk kesehatan.
Melalui pelatihan ini, masyarakat diajak untuk mengolah daun mangrove menjadi produk teh herbal berkualitas tinggi yang bernilai jual.
“Kami ingin membuka wawasan masyarakat bahwa daun mangrove bukan hanya bermanfaat secara ekologis, tapi juga ekonomis,” ungkap Nur Rahmawati, S.T., M.T., dosen Teknik Industri UPN Jatim yang menjadi pemateri utama di acara itu dalam rilisinya, Minggu (18/8/2025).
Dikatakan melalui teknik pengolahan yang tepat dan standar mutu yang terjaga, teh daun mangrove bisa menjadi produk unggulan dari pesisir Surabaya.
Pelatihan berlangsung dalam suasana yang aktif dan penuh semangat. Para peserta mempelajari seluruh tahapan produksi teh daun mangrove, mulai dari pemilihan daun, pencucian, perajangan, hingga proses pengeringan menggunakan metode penjemuran, sangrai, dan oven.
Selanjutnya, mereka juga diajarkan proses pengemasan dalam bentuk teh celup dan teh tubruk.
Selain keterampilan teknis, pelatihan ini juga menekankan pentingnya pengujian kualitas melalui parameter seperti kadar air, abu, dan lemak sesuai standar SNI 3945:2016.
Untuk menjamin keamanan produk, peserta diperkenalkan pada pentingnya uji laboratorium guna memastikan bahwa teh yang dihasilkan bebas dari kandungan berbahaya atau zat beracun, sehingga layak dan aman untuk dipasarkan kepada masyarakat luas.
“Biasanya kami hanya tahu mangrove itu untuk penahan ombak. Baru kali ini kami tahu daunnya bisa dibuat teh yang sehat dan enak,” tutur Ibu Nunuk, salah satu peserta pelatihan yang juga pelaku usaha kecil di kawasan Gunung Anyar.
Pelatihan juga menghadirkan Ibu Isna Nugraha, S.T., M.T., yang menjelaskan pentingnya keberlanjutan produk dalam jangka panjang.
“Kami tidak hanya ingin masyarakat bisa membuat teh, tapi juga mengembangkan produk yang konsisten mutunya dan memiliki nilai tambah melalui inovasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya standarisasi yang berbasis data dan praktik yang higienis.
Selain pengolahan dasar, pelatihan juga membahas inovasi produk seperti teh tisane –yaitu teh daun mangrove yang dikombinasikan dengan herbal lain seperti jahe dan melati. Tak kalah penting, peserta juga dikenalkan pada prinsip kemasan informatif dan menarik, agar produk mereka siap bersaing di pasar modern.
Sementara Aulia Dewi Fatikasari, S.T., M.T., yang turut mendampingi peserta, kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga sebagai media komunikasi visual dengan konsumen.
“Kemasan yang menarik dan sesuai standar akan meningkatkan nilai jual serta kepercayaan pembeli,” jelasnya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga turut melibatkan mahasiswa Teknik Industri UPN Jatim, yaitu Rehan Zufar Ayubi dan Rayhan Fatur Maulana, yang membantu dalam sesi praktik dan pendampingan peserta.
Keduanya berperan dalam memberikan demonstrasi teknik produksi, membantu peserta dalam proses pengeringan dan pengemasan, serta mendokumentasikan kegiatan pelatihan untuk keperluan publikasi dan evaluasi.
Acara ditutup dengan sesi demonstrasi pengemasan dan diskusi interaktif. Setiap peserta diberi kesempatan mencoba langsung proses produksi dan menyusun strategi branding sederhana.
Dengan pelatihan ini, masyarakat diharapkan dapat membentuk kelompok usaha mandiri, serta memanfaatkan potensi alam sekitar secara berkelanjutan.
“Besar harapan kami agar pelatihan ini bisa menjadi titik awal perubahan ekonomi masyarakat pesisir. Kami percaya, jika masyarakat diberdayakan dengan ilmu dan pendampingan yang tepat, mereka bisa menciptakan produk lokal yang tidak kalah dari produk industri besar,” pungkas Yekti Condro Winursito, S.T., M.Sc. **




