KITAINDONESIASATU.COM- Ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan perkotaan kian mengkhawatirkan dan mengancam keseimbangan ekosistem, terutama di Sungai Ciliwung. Menyikapi kondisi tersebut, pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa pengendalian spesies invasif ini tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui langkah terpadu.
“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis, Selasa 14 April 2026.
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen,” paparnya.
Tak hanya itu, ikan ini mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.
Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelasnya.
Kombinasi Tiga Strategi
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kombinasi tindakan pengendalian: pencegahan, penangkapan secara fisik, dan kontrol biologis. Dari sisi pencegahan, Dr Charles menyarankan, “Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.”
Selain itu, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.
Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan, tetapi harus lebih selektif dan terarah. Menurutnya, penangkapan terhadap ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dapat lebih efektif dalam menekan populasi.
Pelibatan masyarakat juga menjadi kunci. Perburuan berbasis komunitas dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari daerah lain. “Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” papar dia.
Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.
Ia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun, tidak dalam konteks untuk dikonsumsi. “Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar berpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Dengan pendekatan terpadu dan melibatkan berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta. (Nicko)

