“Alhamdulillah, jumlahnya mulai menurun, terutama kebakaran lahan kosong dan lahan terbuka. Meskipun masih tercatat beberapa kejadian dalam beberapa hari terakhir, frekuensinya sudah jauh berkurang dibandingkan puncak musim kemarau,” ujar Kurniawan.
Faktor Manusia: Variabel Risiko yang Belum Hilang
Kendati alam mulai bersahabat, Kurniawan mengingatkan bahwa faktor manusia tetap menjadi variabel risiko tertinggi yang tidak bisa diabaikan.
Kelalaian warga, seperti kebiasaan membakar sampah rumah tangga atau membuang puntung rokok sembarangan di area yang masih memiliki titik kering, masih menjadi pemicu dominan terjadinya kebakaran lahan.
Perlu diingat bahwa praktik membakar sampah sembarangan tidak hanya berpotensi memicu kebakaran yang meluas, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap ketentuan kebersihan dan lingkungan.
Di berbagai wilayah kota besar, termasuk di Jawa Barat, pelaku pembakaran sampah liar dapat dikenakan sanksi denda administratif yang mencapai jutaan rupiah, di samping risiko pencemaran udara yang memperburuk kualitas lingkungan.






