KITAINDONESIASATU.COM – Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak umat Islam menjadikan momen pergantian tahun sebagai titik awal memperkuat kesalehan sosial, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Tak hanya itu, masyarakat juga diajak melakukan ‘hijrah jemari’ dengan meninggalkan kebiasaan menyebarkan kebencian di ruang digital.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan bahwa makna hijrah tidak sekadar perpindahan fisik, tetapi juga perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik serta membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Menurut Arsad, Muharam menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi diri, termasuk menilai sejauh mana ibadah yang selama ini dijalankan telah memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Ia menekankan bahwa kesalehan yang ideal bukan hanya terlihat dari ritual ibadah, tetapi juga dari kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa pesan dalam Surat Al-Ma’un menegaskan pentingnya perhatian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kelompok rentan sebagai bagian tak terpisahkan dari pengamalan ajaran agama.
Karena itu, Kemenag terus mendorong berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui penguatan fungsi masjid, optimalisasi zakat dan wakaf, serta layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi kesejahteraan umat. Muharam pun diharapkan menjadi momentum memperkuat budaya berbagi, gotong royong, dan kepedulian sosial.
“Jangan sampai ibadah hanya berhenti pada ritual. Muharam mengingatkan kita bahwa keberagamaan harus melahirkan empati, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Arsad dikutip dari laman Kemenag, Senin (15/6).
Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi, menyoroti pentingnya semangat hijrah di era digital. Menurutnya, media sosial yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat harus dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan-pesan positif, bukan menjadi ruang penyebaran kebencian dan permusuhan.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media digital dengan menjadikan setiap unggahan, komentar, dan informasi sebagai sarana menebarkan inspirasi, pengetahuan, serta pesan yang menyejukkan.
“Hijrah di era digital berarti mengubah cara kita berinteraksi. Jemari kita harus menjadi sarana menyebarkan pengetahuan, inspirasi, dan pesan-pesan yang menyejukkan, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Menurut Ismail, para penyuluh agama juga memiliki peran penting dalam memperkuat literasi keagamaan yang moderat, ramah, dan mudah dipahami masyarakat. Dengan demikian, semangat Muharam tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga menghadirkan kedamaian, persaudaraan, dan optimisme di tengah masyarakat.
Momentum Tahun Baru Islam 1448 H ini pun diharapkan menjadi pengingat bagi umat untuk tidak hanya memperbarui semangat ibadah, tetapi juga memperkuat komitmen menghadirkan manfaat, kedamaian, dan kebaikan bagi sesama, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. (*)

