KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target di Iran.
Aksi tersebut terjadi usai sebuah kapal tanker minyak komersial diserang drone saat melintas di kawasan strategis Selat Hormuz.
Insiden ini menjadi tantangan baru bagi hubungan kedua negara yang sebelumnya tengah menjalani masa gencatan senjata sementara. Kesepakatan tersebut awalnya diharapkan menjadi jalan menuju pembicaraan damai yang lebih permanen.
Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyebut serangan dilakukan sebagai respons terhadap insiden yang melibatkan kapal tanker M/T Kiku berbendera Panama.
Kapal tersebut membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah ketika diduga terkena serangan drone.
Selat Hormuz Jadi Sorotan pada Konflik AS-Iran
Serangan balasan AS menyasar berbagai fasilitas penting Iran, termasuk infrastruktur komunikasi, pertahanan udara, hingga fasilitas penyimpanan drone.
Meski konflik kembali memanas, jalur pelayaran Selat Hormuz disebut masih terbuka bagi kapal komersial.
Kawasan tersebut menjadi perhatian global karena menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia. Gangguan keamanan di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak besar terhadap harga minyak internasional.
Ketegangan ini juga membuat masa depan gencatan senjata semakin tidak pasti. Kedua pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan yang sebelumnya disusun.



