KITAINDONESIASATU.COM – Dunia basket kehilangan sosok legendarisnya. Lenny Wilkens, ikon NBA yang membawa Seattle SuperSonics meraih satu-satunya gelar juara dan menuntun Tim USA meraih emas Olimpiade 1996, meninggal dunia pada Minggu malam (9/11) di usia 88 tahun.
Wilkens bukan sekadar pelatih hebat, ia adalah simbol keanggunan, strategi, dan dedikasi dalam sejarah NBA.
Sebagai pemain, ia 9 kali All-Star, dua kali pemimpin assist liga, dan tercatat sebagai salah satu playmaker paling elegan di masanya.
Berpindah ke kursi pelatih, Wilkens mencatat 1.332 kemenangan dalam 32 musim, rekor ketiga terbanyak sepanjang sejarah NBA.
Komisioner NBA Adam Silver menyebut Wilkens sebagai “figur yang mewakili jiwa sejati NBA — pemain Hall of Fame, pelatih Hall of Fame, dan duta besar basket sejati.”
Empat tahun lalu, namanya bahkan disematkan dalam daftar 75 pemain terbesar dan 15 pelatih terbaik sepanjang masa.
Lahir di Brooklyn, New York, Wilkens meniti karier dari Providence College hingga menjadi bintang St. Louis Hawks di NBA Draft 1960.
Di lapangan, ia terkenal sebagai pengatur tempo dengan rata-rata 22,4 poin, 8,2 assist, dan 6,2 rebound di musim debutnya bersama SuperSonics.
Pada 1977, ia kembali ke Seattle sebagai pelatih kepala dan menciptakan sejarah, membawa Sonics dari tim terpuruk menjadi juara NBA 1979, satu-satunya dalam sejarah kota tersebut.
Selama lebih dari tiga dekade, Wilkens memimpin berbagai tim, dari Portland, Cleveland, Atlanta, Toronto, hingga New York Knicks, sekaligus menjadi sosok pelatih yang dihormati di seluruh dunia.
Ia juga menjadi pelatih kepala Tim USA yang meraih emas Olimpiade Atlanta 1996, mempertegas statusnya sebagai legenda sejati.
Wilkens tercatat tiga kali masuk Hall of Fame, sebagai pemain (1989), pelatih (1998), dan asisten pelatih Tim USA 1992 (2010). (*)





