Lifestyle

Tari Sere Bissu Maggiri, Atraksi Kebal dari Sulawesi Selatan

×

Tari Sere Bissu Maggiri, Atraksi Kebal dari Sulawesi Selatan

Sebarkan artikel ini
Tarian Sulawesi Selatan, Bissu terawat dengan baik sampai sekarang. (Fit)
Tarian Sulawesi Selatan, Bissu terawat dengan baik sampai sekarang. (Fit)

KITAINDONESIASATU.COM – Sebilah keris panjang digenggam di tangan kanan. Keris pun diacungacungkan, sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama tabuhan gendang dan gong, serta tiupan pui-pui, yang semakin meningkat temponya. Lalu berkali-kali keris dihujamkan ke badan. Perut, pergelangan tangan, mata dan leher, menjadi sasaran tusukan keris.

Irama gendang semakin cepat. Ayunan tusukan keris semakin keras dan cepat mengikuti irama. Pada suatu saat, keris ditekan dalam-dalam ke badan dalam waktu yang cukup lama. Penonton menahan napas. Tak tampak darah mengalir keluar dari kulit. Alunan gendang yang semula cepat mulai menurun. Bissu pun mundur untuk berlutut dan menyarungkan kembali kerisnya.

Penghormatan pun diberikan, keris diadu bersilangan. Lalu ia berdiri berjalan berkeliling memercikkan air ke berbagai arah dengan tetap melakukan gerakan-gerakan tari, untuk kemudian mengakhiri tarian.

Bissu, merupakan pelaku utama dalam tarian Sere Bissu Maggiri yang secara harfiah berarti tari menusuk-nusuk badan oleh Bissu. Sehingga tari Sere Bissu Maggiri diartikan sebagai tarian yang dilakukan oleh seorang Bissu yang dalam gerakan tariannya itu menusuk-nusukkan keris ke tubuhnya terutama ke daerah-daerah yang vital seperti leher, pergelangan tangan, dan perut.

Tari ini, merupakan sebuah karya seni yang diperkirakan telah ada sejak zaman Raja Bone Pertama yang bergelar To Manurungeng Ri Matajang di tahun 1326-1358. Sebagai pertunjukan, tari Sere Bissu Maggiri bernilai magis. Ia mempertontonkan ilmu kebal, kebal terhadap senjata tajam maupun terhadap api.

Dalam sebuah pertunjukan pentas budaya, seorang Bissu membuka penampilan dengan mengenakan baju adat berwarna hitam. Di badannya dilengkapi aksesoris yang lazimnya dikenakan seorang perempuan dan di kepalanya mengenakan topi.

Di tangannya ada nampan dengan dupa yang dibakar, lalu menari berkeliling. Kemudian muncul Bissu lain mengenakan pakaian adat berwana putih, oranye, hijau dan merah. Di antara mereka ada yang memegang obor dan menari melenggak-lenggok. Setelah beberapa saat, suasana hening ketika seorang Bissu memimpin pembacaan mantra, ada baskom berisi air, beberapa helai daundaunan serta keris. Bissu itu pun menyebar asap dupa ke segala penjuru, lalu mantra pun dirapal. Gendang kembali ditabuh berirama, sementara itu seorang Bissu mulai membakar tiga obor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *