“Para Bissu, sebagai pemuka agama awal Suku Bugis, kini menjadi minoritas yang ritual dan kehidupannya terus terdesak oleh paham agama baru, yakni Islam. Perlakuan masyarakat terhadap Bissu dan ritualnya, seperti sere Bissu, kebanyakan hanya dijadikan sebagai pertunjukan bagi wisatawan, sehingga menghilangkan esensi religiusnya,” sebut Aslan yang juga penyair Sulsel ini.
Ia menyebut jika sere Bissu sebagai ritual telah tersingkirkan oleh paham Islam yang menjadi agama mayoritas di Sulawesi Selatan. Sementara itu sebuah penelitian yang dilakukan Indarwati dan kawan-kawan dan dipublikasikan dalam Jurnal Idiomatik, mengungkap jika terdapat beragam sere atau tarian yang dilakukan Bissu.
Selain tari Maggiri, ada juga tari Massulo (membakar diri), Sere Wara (berjalan di atas bara api) dan Mattompang Arajang (menyucikan benda pusaka). Setiap ritual tersebut disebutkan memiliki makna yang sangat mendalam, seperti pernyataan sikap bahwa sebenarnya antara manusia dengan besi, api dan alam adalah satu (menyatu). (Fit)



