Lifestyle

Tari Sere Bissu Maggiri, Atraksi Kebal dari Sulawesi Selatan

×

Tari Sere Bissu Maggiri, Atraksi Kebal dari Sulawesi Selatan

Sebarkan artikel ini
Tarian Sulawesi Selatan, Bissu terawat dengan baik sampai sekarang. (Fit)
Tarian Sulawesi Selatan, Bissu terawat dengan baik sampai sekarang. (Fit)

Obor yang telah menyala itu dipegang masing-masing satu. Tarian pun kembali dilakukan dengan obor yang diusap-usapkan ke leher, tangan maupun badan. Tak ada tanda-tanda badan maupun pakaian mereka dilahap api.

Peran Bissu Pertunjukan tari Sere Bissu Maggiri seperti ini tak lazim ditemui. Ini lantaran peran dari Bissu itu sendiri. Sebab tarian itu hanya dapat dilakukan oleh Bissu, sesuai penamaan tariannya. Dalam kepercayaan suku Bugis, Bissu bukanlah seorang laki-laki maupun seorang perempuan, tetapi ia adalah gender tersendiri.

Menjadi seorang Bissu harus melalui pembelajaran dan upacara pengangkatan. Sebab Bissu memiliki peran sebagai penasihat spiritual raja, dukun, penjaga pusaka Kerajaan.

Diakui Profesor Nurhayati Rahman, pakar Filologi dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Bissu itu bukan laki-laki dan bukan perempuan, tetapi berada di dunia tengah. Bissu harus netral, agar tak ada halangan saat menghubungi Dewa, lantaran tugas Bissu menjadi penghubung antara Dewa di langit dengan manusia di bumi.

“Bissu itu dia berada di dunia tengah, dia bukan laki-laki dan bukan perempuan. Kenapa dia harus netral begitu, harus independen, supaya dia tidak punya halangan dalam menghubungi Dewa karena dia menjadi penghubung antara Dewa dengan manusia,” ujar penerjemah karya sastra kuno La Galigo ini.

Kondisi Tari Sere Bissu Maggiri Saat Ini Dalam seni pertunjukan, tari Sere Bissu Maggiri masuk dalam Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Sebagai tarian tradisional, Sere Bissu Maggiri biasanya dipentaskan pada acara-acara seperti Hari Jadi sebuah kabupaten, penyambutan tamu agung atau menjadi pelengkap upacara adat tertentu.

Sebagai pertunjukan, biasanya kelayakan pertunjukan diupayakan pihak Bissu dengan doa ritual tertentu sebelum melaksanakan tarian. Pengamat Budaya dari Universitas Negeri Makassar, Aslan Abidin, menilai jika saat ini kondisi sere Bissu hanya sebatas pertunjukan wisata dan esensi religi dari tarian ini telah hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *