KITAINDONESIASATU.COM — Keajekkan dalam beribadah kerap menjadi ujian tersendiri bagi seorang hamba. Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari melalui hikmah ke-65 dalam majelis pengajian kitab Al-Hikam menegaskan pentingnya menjaga keikhlasan serta prasangka baik ketika seseorang menjalankan amalan rutin (wirid).
Ibnu Atha’illah mengingatkan agar umat Islam tidak mudah meremehkan atau menilai buruk seseorang yang tampak terus istikamah menjaga wiridnya, meski dari luar belum terlihat buah keistimewaan atau karunia yang menonjol.
Sering kali, mata manusia hanya tertuju pada hasil lahiriah, padahal hakikat karunia terbesar adalah petunjuk Allah yang memampukan hamba-Nya untuk tetap konsisten beribadah.
Ulama pengampu kajian menjelaskan bahwa balasan paling nyata atas suatu ketaatan adalah karunia keridaan Allah yang memilih hamba tersebut untuk berada di jalan-Nya. Keistiqamahan itu sendiri merupakan karunia tak ternilai yang kerap tidak disadari.
Pesan moral dari pesan spiritual ini mengajak umat untuk memurnikan niat dalam beribadah. Wirid dan amal saleh hendaknya dilakukan semata-mata demi mengharap keridaan Allah, bukan demi mengejar prasangka pujian maupun keajaiban duniawi semata.(*)



