KITAINDONESIASATU.COM — Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitab monumental Al-Hikam pada hikmah ke-93 menekankan pentingnya kerendahan hati saat seseorang menerima pujian. Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin sejati akan merasa malu kepada Allah Swt. ketika disanjung oleh manusia.
Dalam ajaran spiritual tersebut, sanjungan sering kali melukiskan sifat atau kebaikan yang belum tentu dimiliki secara hakiki oleh seseorang. Pujian manusia dinilai berpotensi memicu rasa sombong (ujub) jika tidak disikapi dengan kebersihan jiwa dan kesadaran diri.
Oleh karena itu, ketika mendapatkan pujian, seorang hamba diajarkan untuk mengembalikan segala sanjungan kepada Allah sebagai pemilik kebaikan yang sebenarnya. Sikap ini menjadi benteng spiritual agar manusia senantiasa mawas diri, mengakui kekurangan pribadi, dan mengagungkan Sang Pencipta.
Hikmah ini menjadi pengingat relevan di tengah kehidupan sosial saat ini, di mana apresiasi publik sering kali memicu kelalaian. Menjaga kerendahan hati dan rasa malu kepada Allah merupakan kunci utama untuk mempertahankan keikhlasan serta kesucian hati dalam beramal.(*)





