KITAINDONESIASATU.COM — Kitab legendaris Al-Hikam karya Syekh Ibn Atha’illah As-Sakandari senantiasa menyajikan kedalaman spiritual bagi para penuntut ilmu. Pada petuah atau hikmah ke-92, fokus utama pembahasan tertuju pada pentingnya menjaga keikhlasan hati serta meluruskan prasangka (husnuzhan) kepada Allah SWT dalam menghadapi setiap episode kehidupan.
Dalam hikmah tersebut, Syekh Ibn Atha’illah menegaskan bahwa pengenalan seorang hamba terhadap Allah tidak diukur dari seberapa banyak kenikmatan yang ia terima, melainkan dari kemampuannya melihat kebaikan Allah di balik setiap ketetapan.
Baik saat diberi kemudahan maupun ketika diuji dengan kesempitan, seorang hamba yang arif akan menyadari bahwa segalanya merupakan bentuk kasih sayang Ilahi.
Para ulama meyakini bahwa pesan dalam hikmah ke-92 ini menjadi pengingat krusial bagi manusia modern yang kerap terjebak dalam orientasi hasil material semata.
Dengan memahami hikmah ini, seorang hamba diajak untuk membebaskan jiwa dari ketergantungan pada makhluk serta melepaskan prasangka buruk ketika doa atau keinginannya belum terkabul.
Kesadaran spiritual ini diharapkan mampu membentuk pribadi yang tenang, ridha, dan konsisten beribadah semata-mata demi mengharapkan keridaan Sang Pencipta.(*)






