KITAINDONESIASATU.COM – Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakakandari merupakan samudra spiritual yang mendalam. Salah satu untaian mutiara di dalamnya adalah hikmah ketujuh, yang mengingatkan manusia tentang hakikat doa dan takdir:
“Jangan sampai penundaan masa pemberian Tuhan kepadamu—padahal kamu telah bersungguh-sungguh dalam berdoa—menyebabkan kamu berputus asa. Sebab, Dia menjamin pengabulan doa bagimu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang kamu pilih sendiri, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu inginkan.”
Hikmah ini menjadi obat penawar bagi jiwa yang sering kali dirundung gelisah dan kecewa saat keinginan tak kunjung terwujud. Ibnu Atha’illah mengajarkan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Pengabulan doa tidak selalu mewujud dalam bentuk yang kita minta, melainkan dalam bentuk yang kita butuhkan.
Sering kali, penundaan adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk, atau bentuk ujian untuk melihat sejauh mana ketulusan iman kita. Melalui hikmah ini, kita diajak untuk selalu berprasangka baik (husnuzan) dan berserah diri sepenuhnya kepada waktu dan pilihan terbaik dari-Nya.(*)



