KITAINDONESIASATU.COM – Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari kembali menjadi rujukan penting bagi umat Muslim dalam menata hati di tengah modernitas. Salah satu poin krusial yang kerap dibahas para ulama adalah hikmah keenam.
Hikmah ini berbunyi: “Jangan sampai terlambatnya masa pemberian Tuhan kepadamu—padahal kamu telah bersungguh-sungguh dalam berdoa—menyebabkan kamu berputus asa. Sebab, Dia menjamin penerimaan doa menurut pilihan-Nya untukmu, bukan menurut pilihanmu sendiri, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu kehendaki.”
Pesan mendalam dari hikmah ini mengajarkan hamba-Nya untuk selalu mengedepankan prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Sering kali, manusia merasa frustrasi ketika keinginan atau doa-doa yang dipanjatkan tidak kunjung menjadi kenyataan.
Namun, Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa ketetapan Allah didasarkan pada ilmu-Nya yang Mahaluas mengenai apa yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Menunda suatu pemberian bukan berarti menolak, melainkan bentuk perlindungan agar hamba-Nya tidak celaka oleh keinginannya sendiri.
Memahami prinsip ini membantu menjaga kemurnian niat dan keikhlasan, sehingga seseorang tetap konsisten beribadah tanpa bergantung pada hasil duniawi. Rasa putus asa dalam berdoa justru mengikis kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.(*)



