KITAINDONESIASATU.COM — Syekh Ibn Ata’illah as-Sakandari dalam karya monumentalnya, kitab Al-Hikam, menekankan pentingnya membersihkan hati dari kebiasaan menuruti hawa nafsu. Dalam hikmah ke-67, beliau menyampaikan:
“Keinginan hawa nafsu yang paling berbahaya bagi spiritual seorang hamba adalah nafsu yang tersembunyi (asy-syahwah al-khafiyyah).”
Hikmah ini mengisyaratkan bahwa godaan fisik seperti harta, tahta, dan popularitas nyata relatif mudah dikenali. Namun, nafsu yang terselubung dalam bentuk kebaikan—seperti ingin dipuji atas keikhlasan, merasa lebih alim dari orang lain, atau beribadah agar dihormati masyarakat—jauh lebih beracun bagi perjalanan spiritual seseorang.
Syekh Ibn Ata’illah mengingatkan para penempuh jalan spiritual (salik) untuk senantiasa menguji niat di setiap perbuatan. Ketika amal saleh bercampur dengan dorongan agar diakui manusia, maka esensi ketulusan kepada Allah SWT akan runtuh.
Oleh karena itu, rahasia utama mencapai ketenangan jiwa dan kemurnian tauhid adalah dengan terus-menerus melakukan introspeksi diri (muhasabah). Dengan mengikis nafsu samar ini, seorang hamba dapat membebaskan hatinya dari kemewahan semu duniawi dan mencapai ridha Ilahi secara utuh.(*)

