Namun, penelitian tersebut menggunakan sediaan khusus, bukan sekadar mengonsumsi ubi jalar sebagai makanan. Bukti klinis yang tersedia juga masih terbatas, sehingga ubi jalar tidak dapat dianggap sebagai pengobatan diabetes.
3. Mengandung Antioksidan
Ubi jalar Jepang juga mengandung senyawa antioksidan, termasuk polifenol dan karotenoid. Senyawa tersebut membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Warna kulit dan daging umbi dapat memengaruhi jenis serta jumlah senyawa yang terkandung di dalamnya. Ubi jalar Jepang yang berkulit ungu dan berdaging putih tidak memiliki profil antioksidan yang persis sama dengan ubi jalar berdaging ungu atau oranye.
Kulit ubi jalar juga mengandung sejumlah zat gizi dan senyawa tumbuhan. Jika ingin dikonsumsi bersama kulitnya, umbi perlu dicuci hingga bersih terlebih dahulu.
Cara pengolahan dapat memengaruhi kandungan zat gizi. Mengukus atau merebus bisa menjadi pilihan praktis tanpa tambahan minyak berlebihan. Meski demikian, metode yang paling sesuai juga bergantung pada jenis zat gizi yang ingin dipertahankan.
4. Perbedaan Kandungan Mineral Perlu Diperhatikan
Laporan Verywell Health menyebut ubi jalar Jepang memiliki kandungan kalsium lebih tinggi dibandingkan kentang biasa. Kalsium dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi serta mendukung fungsi otot.




