KITAINDONESIASATU.COM — Kajian spiritual Islam kembali menyoroti pentingnya kemurnian niat dalam beribadah. Salah satu materi yang menarik perhatian adalah ajaran Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari dalam hikmah ke-88 kitab monumental Al-Hikam.
Dalam kalam hikmah tersebut, Ibnu ‘Atha’illah menegaskan bahwa siapapun yang menuntut balasan atau pahala atas amalnya, maka ia akan dituntut untuk membuktikan keikhlasan dan kesempurnaan dalam perbuatan tersebut.
Pesan ini menjadi peringatan mendalam bagi umat Islam agar tidak terjebak pada sikap beramal karena motif keuntungan belaka.
Penyampaian hikmah ini menekankan bahwa hubungan hamba dengan Sang Pencipta mestinya didasari oleh rasa tulus dan ketundukan.
Ketika seseorang berharap balasan materi maupun pahala semata, secara tidak langsung ia menuntut hak atas amalnya. Padahal, keikhlasan sejati menuntut keselarasan total antara lahir dan batin tanpa pamrih.
Melalui refleksi hikmah ke-88 ini, para ulama mengajak masyarakat untuk terus memperbaiki niat dalam setiap kebajikan. Ibadah hendaknya dilakukan sebagai wujud syukur dan penghambaan diri, bukan sekadar transaksi untuk mengejar imbalan.(*)


