Hormon-hormon tersebut membantu mengendalikan nafsu makan, memperlambat proses pengosongan lambung, serta menjaga kadar gula darah tetap stabil. Dengan demikian, rasa kenyang bertahan lebih lama tanpa perlu menekan keinginan makan secara paksa.
Kekurangan Serat Bisa Berdampak Buruk
Sebaliknya, kekurangan serat larut dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Saat asupan serat tidak mencukupi, bakteri usus akan mulai memanfaatkan protein dan lapisan pelindung usus sebagai sumber energi. Proses ini menghasilkan berbagai senyawa berbahaya, seperti amonia, amina, asam lemak rantai bercabang, dan asam empedu sekunder dalam jumlah berlebihan.
Kondisi tersebut dapat merusak lapisan usus sehingga memicu peradangan kronis yang berkaitan dengan berbagai penyakit, mulai dari resistensi insulin, perlemakan hati, sindrom iritasi usus, hingga meningkatkan risiko kanker kolorektal.
Tingkatkan Asupan Serat Secara Bertahap
Dr. Chang menyarankan agar masyarakat menambah konsumsi serat larut secara bertahap agar bakteri baik di dalam usus memiliki waktu untuk beradaptasi. Langkah ini juga dapat mengurangi risiko munculnya keluhan seperti perut kembung.



