Efek positif disebut meningkat seiring frekuensi aktivitas yang lebih rutin.
Peserta yang melakukan kegiatan budaya setiap bulan mengalami perlambatan penuaan hingga sekitar 3 persen. Sementara mereka yang melakukannya setiap minggu menunjukkan perlambatan hingga 4 persen.
Meski demikian, peneliti mengakui studi tersebut memiliki sejumlah keterbatasan.
Salah satunya karena pengukuran DNA hanya dilakukan melalui sampel darah dan belum mencakup jaringan tubuh lain seperti otot.
Selain itu, data aktivitas peserta diperoleh melalui laporan pribadi sehingga kemungkinan bias tetap ada.
Namun, hubungan antara aktivitas seni dengan kesehatan biologis tetap terlihat kuat bahkan setelah faktor lain seperti kebiasaan merokok, berat badan, tingkat pendidikan, dan pendapatan ikut diperhitungkan.
Para ilmuwan menduga manfaat tersebut berkaitan dengan kemampuan aktivitas seni dalam membantu menurunkan stres psikologis.
Stres berkepanjangan diketahui dapat memicu peradangan dalam tubuh yang berhubungan dengan percepatan proses penuaan.



