JAKARTA – Pengajian rutin Kitab Al-Hikam kembali digelar di masjid kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (10/8). KH Ahmad Mansur, pengasuh kajian tersebut, mengupas tuntas hikmah ke-28 karya Syekh Ibn Ata’illah as-Sufi yang menekankan pentingnya konsistensi dalam berzikir.
Dalam pemaparannya, Kyai Ahmad mengingatkan jamaah agar tidak meninggalkan zikir hanya karena merasa belum mampu khusyuk. Menurut hikmah ke-28, kelalaian seseorang yang sama sekali tidak mengingat Allah jauh lebih berbahaya daripada kelalaian yang terjadi di tengah proses berzikir.
“Zikir adalah tangga spiritual. Jangan tunggu hati bersih baru berzikir, tetapi berzikirlah agar hati menjadi bersih. Mengabaikan zikir secara total adalah bentuk kelalaian yang hakiki,” tegas Kyai Ahmad.
Beliau menjelaskan bahwa perjalanan spiritual berlangsung bertahap: dari zikir lisan yang lalai, naik menjadi zikir yang sadar, hingga mencapai tingkat keheningan hati yang sempurna (hudhur). Jamaah diajak untuk terus melanggengkan zikir dalam kondisi apa pun sebagai sarana penyucian jiwa.
Kajian yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama. Para jamaah berharap pesan hikmah ke-28 ini menjadi pengingat untuk selalu menjaga istikamah ibadah harian di tengah padatnya dinamika kehidupan modern saat ini.(*)



