KITAINDONESIASATU.COM – Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur menciptakan inovasi edible coating berbasis limbah biji salak dan kulit pisang dinamakan Si-Jalak.
Si-Jalak yang dikembangkan para mahasiswa ini sebagai alternatif pengawet alami untuk membantu mempertahankan kualitas sekaligus memperpanjang umur masa simpan buah.
Inovator Si-Jalak terdiri dari Muhammad Yusuf Yasjudan dan Rio Akbar Ananta Siswanto dari Program Studi Teknik Industri, Putri Mufida Azzahra, kemudian dari Program Studi Teknik Kimia, Cintya Bhakti Rahayu dari Program Studi Manajemen, serta Amelia Nur Amanda dari Program Studi Teknologi Pangan UPN Veteran Jawa Timur.
Dalam pengembangan Si-Jalak dibimbing oleh salah satu dosen Isna Nugraha, S.T., M.T., CSCA., CSSCP, inovasi tersebut menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2026 melalui skema pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Pengembangan Si-Jalak sendiri berangkat dari persoalan limbah organik dan menurunnya kualitas buah selama penyimpanan, biji salak dan kulit pisang yang selama ini lebih banyak dianggap sebagai limbah dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku bernilai guna.
Menurut Isna Nugraha Si-Jalak dikembangkan sebagai upaya untuk memanfaatkan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Inovasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat dari sisi pangan sekaligus mendukung penerapan konsep zero waste,” ujar Isna.
Si-Jalak juga diformulasikan dengan memanfaatkan biji salak dan kulit pisang yang dipadukan dengan pati singkong sebagai bahan pembentuk lapisan.
Lapisan tersebut kemudian diaplikasikan pada permukaan buah untuk membantu memperlambat proses penurunan mutu selama penyimpanan.
Selain berorientasi pada fungsi produk, Si-Jalak juga mengusung konsep zero waste, pemanfaatan limbah menjadi bahan baku diharapkan dapat mengurangi jumlah limbah organik sekaligus menciptakan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan.
Dari sisi pengembangan produk, Cintya Bhakti Rahayu, anggota tim Program Studi Manajemen, melihat adanya peluang untuk mengembangkan Si-Jalak agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara lebih luas.
“Si-Jalak memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih luas karena mengangkat konsep pemanfaatan limbah dan memiliki target pengguna yang cukup beragam, mulai dari rumah tangga hingga pelaku UMKM,” ujar Cintya.
Pengembangan Si-Jalak juga melibatkan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan limbah secara lebih optimal, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara inovasi mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu pihak yang turut memberikan perhatian terhadap pemanfaatan limbah adalah Pak Prayit, sosok yang dikenal aktif menjaga kebersihan lingkungan kampus, menurutnya, limbah organik masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali apabila dikelola dengan tepat.
“Menurut saya, limbah seperti biji salak dan kulit pisang masih bisa dimanfaatkan kembali. Kalau bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, tentu lebih baik daripada hanya menjadi sampah,” ujar Pak Prayit.
Si-Jalak dirancang dalam bentuk yang praktis sehingga dapat diaplikasikan pada permukaan buah, penggunaan edible coating menjadi salah satu pendekatan yang potensial untuk membantu mempertahankan kualitas buah selama penyimpanan.
Melalui inovasi tersebut, mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur berupaya menggabungkan aspek pangan dan lingkungan dalam satu produk.
Si-Jalak tidak hanya diarahkan untuk membantu memperpanjang umur simpan buah, tetapi juga menjadi bentuk pemanfaatan limbah pangan menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna.
Ke depan, tim berharap Si-Jalak dapat terus dikembangkan melalui pengujian dan penyempurnaan formulasi sehingga memiliki kinerja yang semakin optimal.
Pengembangan lebih lanjut juga diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan produk secara lebih luas, baik bagi rumah tangga, pedagang buah, maupun pelaku UMKM.
Melalui Si-Jalak ini, mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur bisa menunjukkan bahwa limbah pangan tidak selalu harus berakhir sebagai buangan.
Dengan inovasi dan pengolahan yang tepat, limbah biji salak dan kulit pisang dapat dikembangkan menjadi bagian dari solusi untuk menjaga kualitas buah sekaligus mendukung penerapan konsep zero waste. **






