News

Mahasiswa UPN Jawa Timur Sulap Ampas Tebu, Batang Pisang dan Akar Wangi Jadi Bungkus Makanan Biodegradable

×

Mahasiswa UPN Jawa Timur Sulap Ampas Tebu, Batang Pisang dan Akar Wangi Jadi Bungkus Makanan Biodegradable

Sebarkan artikel ini
mahasiswa UPN Jawa Timur 1
Para mahasiswa UPN Jawa Timur tim inovasi memperlihatkan Pape-Debog yang siap dipasarkan. foto: istimewa

KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah isu global akan krisis sampah kemasan plastik, tim mahasiswa dan dosen Teknik Industri, UPN Veteran Jawa Timur menciptakan inovasi kertas bungkus biodegradable dengan nama Pape-Debog.

Inovasi yang mereka ciptakan itu disebut Pape-Debog sebuah kertas pembungkus makanan ramah lingkungan (biodegradable) dengan memanfaatkan limbah organik dari bahan ampas tebu, batang pisang hingga akar wangi sebagai bahan baku utamanya.

Mahasiswa menyebut tingginya konsumsi kertas pembungkus makanan global turut memicu krisis limbah, mayoritas kertas minyak komersial saat ini berlapis plastik polietilen (PE) yang sulit terurai dan berisiko mencemari lingkungan sebagai mikroplastik.

Di sisi lain, Provinsi Jawa Timur menghasilkan jutaan ton limbah ampas tebu dan batang pisang setiap tahunnya yang sebagian besar hanya dibiarkan membusuk menjadi sampah tak berguna.

Pepe Debog
Mahasiswa UPN Jawa Timur saat menguji coba pasar terkait inovasi mereka kertas bungkus Pape-Debog ke para pedagang UMKM yang mendapat sambutan positif. foto: istimewa

Ketua Tim Pengusul, Muhammad Fawaid Aflakhan Nabiel mengungkapkan langkah pemanfaatan limbah ini terbukti sejalan dengan tingginya kebutuhan pasar.

Berdasarkan survei langsung terhadap 100 pedagang makanan di Surabaya Timur, 87% di antaranya menyatakan sangat berminat beralih menggunakan kertas pembungkus organik yang lebih ramah lingkungan.

Oleh karena itu, melihat potensi limbah pertanian yang sangat melimpah di Jawa Timur, mahasiswa terdorong untuk menaikkan nilai ekonomisnya.

“Terlebih lagi, survei lapangan membuktikan besarnya minat pelaku usaha kuliner untuk beralih ke kemasan organik. Ppe-Debog hadir untuk menjawab keresahan darurat sampah plastik sekaligus memenuhi kebutuhan pasar tersebut,” ungkap Muhammad Fawaid kepada kitaindonesiasatu.com, Kamis (3/9/2026).

Pape-Debog hadir mengoptimalkan potensi limbah agroindustri menjadi produk fungsional bernilai tinggi, Fawaid dan tim merancang formulasi di mana setiap biomassa memiliki fungsi krusial dalam struktur kertas.

Kandungan selulosa pada ampas tebu dimanfaatkan sebagai bahan serat utama yang membentuk struktur dasar lembaran kertas yang kokoh.

Sementara itu, batang pisang yang memiliki kandungan pati tinggi digunakan sebagai pelapis bioplastik alami, menjadikan kertas ini kedap air dan tahan terhadap rembesan minyak.

Tim juga mengintegrasikan ekstrak tanaman akar wangi yang kaya akan senyawa bioaktif, penambahan ini memberikan perlindungan antimikroba alami terhadap pertumbuhan bakteri, membuat Pape-Debog jauh lebih higienis dan aman saat bersentuhan langsung dengan makanan.

Inovasi yang diusung oleh Muhammad Fawaid beserta timnya, yaitu Dea Christina Maharani, Naylla Pramoedipta Poetrian, Anisa Nur Faiza, dan Lourent Putri Anatasya, sejalan dengan pilar pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana.

Dosen Pembimbing, Isna Nugraha, S.T., M.T., CSCA., CSSCP., turut mengawal riset ini sebagai wujud nyata penerapan ekonomi sirkular, sementara mahasiswa diarahkan untuk menciptakan solusi nyata yang tidak hanya ramah lingkungan secara teori, namun juga efisien untuk diproduksi secara massal dan dikomersialisasikan.

Menurut Isna Pape-Debog merupakan wujud nyata penerapan keilmuan mahasiswa dalam memberikan solusi permasalahan lingkungan sekaligus menciptakan peluang kewirausahaan yang berkelanjutan.

“Melalui konsep ekonomi sirkular, kami sangat mendukung pengembangan produk ini agar dapat memenuhi standar mutu, tersertifikasi, dan segera digunakan secara luas oleh masyarakat,” jelas Isna Nugraha menimpali.

Keunggulan kertas ini juga telah dibuktikan langsung di lapangan melalui tahapan uji coba pasar, tenyata juga mendapatkan sambuat positif dari para pedagang makanan.

“Awalnya saya ragu memakai kertas yang tidak ada lapisan plastik mengkilapnya, takut bocor. Tapi setelah mencoba PAPE-DEBOG untuk membungkus nasi, ternyata benar-benar tidak tembus minyak dan air. Selain itu ada pembeli saya juga merespons positif karena kemasannya lebih sehat dan ramah lingkungan,” kata Hartono, salah satu pemilik usaha UMKM kuliner yang telah menguji coba produk tersebut.

Antusiasme positif dari para pelaku usaha ini tergambar jelas dalam kegiatan sosialisasi dan pemasaran lapangan yang dilakukan oleh tim, berikut adalah potret dokumentasi saat tim Pape-Debog memperkenalkan produknya secara langsung kepada mitra UMKM kuliner:

Ke depannya, Pape-Debog siap didistribusikan untuk menyasar 51.731 UMKM kuliner potensial di wilayah Surabaya Raya, dipasarkan dengan harga terjangkau senilai Rp25.000 per pack (isi 24 lembar).

“Pape-Debog diharapkan dapat menjadi pelopor gerakan kemasan sehat bebas bahan kimia di Indonesia. Melalui langkah konkret ini, volume sampah plastik sekali pakai dapat ditekan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi komoditas limbah pertanian nasional,” pungkas Muhammad Fawaid. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *