KITAINDONESIASATU.COM – ChatGPT kini menghadapi gelombang penolakan besar-besaran dari para penggunanya.
Hal ini bermula setelah OpenAI, pengembang layanan kecerdasan buatan tersebut, menandatangani perjanjian kerja sama yang menuai kontroversi dengan pemerintah Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan dari BGR, setidaknya sekitar 2,5 juta orang diketahui telah menghapus aplikasi ChatGPT dari perangkat ponsel pintar mereka.
Perjanjian yang menjadi pemicu kemarahan publik ini melibatkan integrasi sejumlah perusahaan teknologi pengembang kecerdasan buatan — termasuk OpenAI — ke dalam lingkungan kerja militer AS di bawah naungan Departemen Pertahanan (DoD).
Banyak pihak meragukan keamanan data dan cara kerja Model Bahasa Besar atau LLM yang digunakan, sehingga timbul ketidakpercayaan mendalam.
Dampak nyata langsung terlihat pada pergeseran pilihan pengguna. Banyak yang memutuskan pindah ke layanan pesaing, Claude Anthropic.
Hasilnya, pada bulan Maret lalu, Claude menjadi aplikasi teratas yang paling banyak diunduh lewat App Store.
Lonjakan angka unduhan sangat tajam: naik 37% tak lama setelah kesepakatan diumumkan, dan terus meningkat hingga 51% hanya dalam sehari berikutnya.


