KITAINDONESIASATU.COM – Nama KH Bahauddin Nur Salim atau yang lebih populer dengan sapaan Gus Baha kini menempati posisi baru dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ulama asal Rembang, Jawa Tengah, tersebut masuk jajaran Wakil Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Gus Baha akan berada dalam jajaran Syuriyah bersama KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj, di bawah kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar.
Berasal dari Keluarga Ulama Al-Qur’an
Gus Baha lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang lekat dengan tradisi keilmuan Islam. Ia merupakan putra KH Nursalim al-Hafizh dan Hj Yuchanidz Nursalim.
Dari garis ayahnya, Gus Baha tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Al-Qur’an selama beberapa generasi. Sementara dari garis ibunya, ia memiliki hubungan keturunan dengan ulama besar Lasem, Abdurrahman Basyaiban atau yang dikenal sebagai Mbah Sambu.
Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk perjalanan pendidikan Gus Baha sejak usia dini. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an langsung dari sang ayah.
Ketika beranjak remaja, perjalanan keilmuannya berlanjut dengan berguru kepada KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen di Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Rembang.
Di pesantren tersebut, Gus Baha dikenal dekat dengan para kiai dan menunjukkan kemampuan keilmuan yang menonjol.
Setelah menikah pada 2003, Gus Baha sempat menetap di Yogyakarta. Di kota tersebut, ia juga terlibat dalam aktivitas kajian Al-Qur’an di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII).
Gus Baha tercatat pernah menjadi Ketua Lajnah Mushaf pada Lembaga Tafsir Al-Qur’an UII. Lembaga tersebut memiliki sejarah dalam pengembangan penerbitan Al-Qur’an dan tafsir di lingkungan UII.
Setelah perjalanan dakwahnya di Yogyakarta, Gus Baha tetap memiliki keterikatan kuat dengan Rembang.
Di daerah asalnya, ia mengasuh Pondok Pesantren Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), pesantren yang didirikan ayahnya pada 1964.
Gaya Ceramah Gus Baha Jadi Ciri Khas
Di tengah perkembangan dakwah digital, nama Gus Baha justru semakin dikenal luas meski dirinya tidak dikenal aktif mengelola media sosial pribadi.
Rekaman kajiannya banyak beredar di berbagai platform digital melalui unggahan santri, jemaah maupun kanal komunitas.
Cara Gus Baha menyampaikan kajian menjadi salah satu hal yang membuat ceramahnya mudah diterima berbagai kalangan. Ia dikenal menggunakan bahasa yang sederhana, diselingi humor, serta mengaitkan pembahasan keagamaan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Popularitas tersebut membuat potongan-potongan ceramah Gus Baha terus beredar dan ditonton masyarakat di berbagai platform.
Kini, perjalanan keilmuannya memasuki babak baru di tingkat organisasi. Gus Baha resmi masuk jajaran Wakil Rais Aam PBNU periode 2026-2031, mendampingi Rais Aam KH Miftachul Akhyar bersama empat Wakil Rais Aam lainnya.
Posisi tersebut menempatkan Gus Baha dalam jajaran Syuriyah, unsur pimpinan PBNU yang memiliki fungsi membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan organisasi sesuai tingkatannya. (*)






