Dari situlah Herman kemudian memutus hubungan. Kemudian Herman mencoba membuka aplikasi DJP dan ternyata berbeda. Kalau yang diberikan oleh penelpon yang diduga penipu itu adalah MPajak sedangkan aplikasi pajak dari Direktorat Pajak M-Pajak. Isinya juga jauh berbeda karena M-Pajak berisi beragam tentang pajak, sedangkan MPajak yang diberikan terduga penipu berhenti sampai tiga Langkah tak bisa dilanjutkan, juga tak bisa balik ke halaman muka.
Modus penipuan seperti ini ternyata sudah lama terjadi. Para penipu menggunakan data DJP yang bocor sehingga mereka bisa menggunakannya untuk melkakukan penipuan. Dugaan pemanfaatan data milik DJP yang bocor ini pernah memakan korban salah satunya adalah Juan (bukan nama sebenarnya).
Awalnya Juan dihubungi orang engaku petugas ajak yang menanyakan PT miliknya yang tidak aktif lagi. Orang itu menghubungi melalui WA. Singkat cerita Juan tertipu karena mengikuti arahan penipu dengan modus penghapusan data pajak.

