Setelah tamat SMA, ia melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Dia meraih gelar sarjana ekonomi pada usia 25 tahun.
Dalam pendidikannya ini, Fuad terbilang beruntung, bisa meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia mengambil master di Economic Institute Boulder Colorodo dan doktor ekonomi di University of Maryland, Amerika Serikat (AS).
Pulang ke Indonesia, ia memilih pekerjaan sebagai asisten dosen ekonomi di tempat ia menempuh pendidikan, yakni UGM.
Kemudian, laki-laki asal Tegal ini memilih sebagai pegawai di Departemen Keuangan, menitinya dari pegawai biasa hinga karirnya bersinar menjadi Menteri Keuangan RI (Republik Indonesia).
Sebelumnya, Fuad menduduki berbagai posisi. Dia tercatat sebagai direktur pembinaan BUMN, Direktorat Jenderal Moneter, staf ahli Menteri Keuangan Bidang Pengembangan Pasar Modal Departemen Keuangan.
Kemudian dipercaya sebagai Deputi Ekonomi dan Keuangan pada Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), dan staf ahli Dewan Moneter hingga Direktur Jenderal Pajak.
Puncaknya, saat akan tumbangnya rezim Presiden Soeharto, Fuad Bawazier diangkat menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia Kabinet Pembangunan VII.
Dia tidak lama menjadi menteri keuangan, lalu berhenti bersamaan dengan lengsernya Presiden Soeharto pada tahun 1998.
Kabinet baru Soeharto hanya bertahan tiga bulan antara dari 16 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998.Pada awal Era Reformasi, Fuad bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN), bentukan Amien Rais.
Pada pemilu 1999, dia berhasil menjadi anggota DPR periode 1999-2004 dan pada pemilu berikutnya dia kembali menjadi anggota DPR periode 2004-2009.
Karier politiknya penuh warna. Setelah tidak cocok lagi dengan Amien Rais, dia pindah partai politik. Fuad bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), partai bentukan Jend. TNI (Purn) Wiranto.
Lagi-lagi, dia berpindah partai dari Hanura. Pada tahun 2015, dia diminta Prabowo Subianto untuk bergabung dengan Partai Gerindra sebagai anggota dewan pembina.

