Menurut dia, hal itu disebabkan oleh penggunaan utang yang tidak produktif. Utang, kata dia, digunakan untuk keperluan rutin yang tidak berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Jaman Pak Harto utangnya cuma segitu tapi pertumbuhannya bisa mencapai 7%,” ucap dia.
Politikus Partai Gerindra ini menuturkan gara-gara kesalahan pengelolaan utang ini pula, pemerintah harus menanggung utang jatuh tempo sekaligus bunga dalam jumlah besar.
Dia menganggap Indonesia telah masuk dalam fase ‘gali lubang tutup lubang’.
“Praktis bayar itu dengan cara utang baru, bunganya utang baru. Makin dalam, makin dalam, itu jurang,” katanya.
Dari Dosen ke Politisi
Fuad Bawazier memang populer. Selain sebagai akademisi, maklum mantan aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), ia juga bertualang sebagai politisi.
Sejak kecil, pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, pada 22 Agustus 1949 ini menghabiskan masa sekolah di tempat kelahirannya dan lulus dari SMA pada usia 19 tahun.

