KITAINDONESIASATU.COM – Anak-anak di Gaza mulai divaksin polio pada hari Sabtu, 31 Agustus 2024. Langkah ini dilakukan sehari sebelum peluncuran skala besar dan jeda pertempuran yang disepakati oleh Israel dan WHO.
Seorang reporter dari Associated Press melaporkan bahwa sekitar 10 bayi divaksin di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis pada Sabtu sore.
Beberapa jam sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 89 korban tewas pada hari Sabtu, termasuk 26 akibat pemboman Israel di malam sebelumnya, serta 205 korban terluka.
WHO mengumumkan bahwa Israel akan menghentikan sebagian operasinya di Gaza pada hari Minggu untuk memungkinkan pelaksanaan kampanye vaksinasi polio bagi 650.000 anak Palestina.
BACA JUGA: Serangan di Gaza, WFP Hentikan Misi Kemanusiaan
Jeda ini diperkirakan berlangsung setidaknya sembilan jam, sebagai bagian dari kesepakatan dengan WHO, namun tidak terkait dengan negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Kampanye vaksinasi ini diluncurkan setelah ditemukan kasus polio pertama dalam 25 tahun di Gaza, pada seorang bayi berusia 10 bulan yang mengalami kelumpuhan sebagian akibat mutasi virus polio, setelah tidak divaksinasi karena perang.
Pejabat kesehatan telah memperingatkan potensi wabah polio selama berbulan-bulan, seiring dengan krisis kemanusiaan yang semakin dalam di Gaza akibat perang yang berlangsung.
Sementara itu, ketegangan terus terjadi di Tepi Barat, dengan militer Israel melanjutkan operasi militernya yang mematikan sejak perang Israel-Hamas dimulai.
Dua pemboman mobil oleh militan Palestina di dekat pemukiman Israel mengakibatkan tiga tentara terluka. Bom mobil tersebut meledak di Gush Etzion, blok permukiman Israel di Tepi Barat, pada Sabtu pagi.
Militer Israel menewaskan dua penyerang Palestina setelah ledakan terjadi di Karmei Zur dan sebuah pom bensin.
Di Gaza, serangan udara Israel menghantam gedung-gedung yang menampung orang-orang terlantar, termasuk di Nuseirat, Khan Younis, dan Kota Gaza.
Korban termasuk seorang dokter, keluarganya, dan seorang anak yang sebelumnya telah diamputasi kakinya.
AS, Qatar, dan Mesir telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencoba memediasi gencatan senjata yang akan membebaskan para sandera yang tersisa. Namun, perundingan itu berulang kali menemui jalan buntu.- ***
Sumber: The Guardian
