KITAINDONESIASATU.COM – Kekalahan mengejutkan tim bulu tangkis putra Indonesia di Piala Thomas 2026 bukan sekadar hasil buruk-ini alarm besar bagi masa depan Merah Putih. Pengamat olahraga Mohamad Kusnaeni menilai kegagalan ini harus dibaca sebagai sinyal perubahan peta kekuatan bulu tangkis dunia.
Bermain di Forum Horsens, Denmark, Indonesia harus menelan pil pahit usai dihajar Prancis 1-4 di laga penentuan Grup D. Hasil ini membuat Indonesia tersingkir di fase grup-sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang tersebut.
Padahal, Indonesia datang dengan skuad terbaik. Nama-nama top di sektor tunggal dan ganda diturunkan penuh harapan. Namun kenyataan berkata lain, performa di lapangan justru jauh dari ekspektasi.
Kusnaeni menegaskan, secara strategi tak ada yang keliru. Susunan pemain dinilai tepat, kombinasi ganda juga wajar. Masalah utamanya ada pada performa individu yang gagal tampil maksimal di momen krusial.
Tanda-tanda penurunan sebenarnya sudah terlihat sejak kemenangan tipis 3-2 atas Thailand. Kekalahan mengejutkan Alwi Farhan dari lawan yang secara peringkat lebih rendah jadi sorotan tajam.
Tak hanya itu, penampilan tunggal pertama Jonatan Christie juga dinilai belum meyakinkan. Ia tumbang dari Kunlavut Vitidsarn hingga kalah dari Christo Popov—hasil yang mempertegas rapuhnya performa tim.
Menurut Kusnaeni, ini bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan tragedi bagi negara dengan 14 gelar Piala Thomas dan langganan final dalam tiga edisi terakhir.
Lebih jauh, ia menilai Indonesia tak lagi menjadi kekuatan dominan di bulu tangkis dunia. Bahkan sebelum menghadapi raksasa seperti China, Korea Selatan, atau Denmark, tim sudah tersandung di fase grup.
Karena itu, ia mendesak PBSI untuk melakukan evaluasi total, termasuk langkah berani melakukan regenerasi pemain.
Nama-nama muda seperti Ubaidillah hingga pasangan Indra/Joaquin dinilai layak diberi panggung. Pasalnya, generasi senior seperti Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie disebut mulai memasuki fase penurunan performa.
“Ini masa sulit yang harus dihadapi. Tapi tanpa regenerasi, masa depan bulu tangkis Indonesia bisa makin suram,” tandasnya. (*)


