KITAINDONESIASATU.COM – Masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa pendidikan di Sekolah Dasar (SD) tidak sepenting pendidikan di perguruan tinggi. Padahal, kenyataannya, pendidikan dasar sangat memengaruhi kemampuan anak untuk mengingat pelajaran, baik yang bersifat formal maupun non-formal, yang akan berpengaruh pada kehidupan mereka di masa depan.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan SD mendorong Galih Sulistyaningra untuk berkarir sebagai guru di sekolah negeri. Ketertarikan Galih dalam bidang pendidikan muncul dari latar belakang keluarganya yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Galih menceritakan kepada Fimela bahwa ia dibesarkan dalam keluarga pendidik, di mana ayah dan ibunya juga merupakan guru. Di usianya yang ke-30, Galih memutuskan untuk mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) saat menempuh studi S1.
Setelah menyelesaikan S1, ia tidak langsung menjadi guru, melainkan mulai mengajar di lembaga pendidikan swasta yang menyediakan pelajaran tambahan bagi anak-anak dari keluarga kelas menengah atas yang bersekolah internasional.
“Profesi guru sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga saya yang juga merupakan pendidik. Setelah lulus S1, saya tidak langsung mengajar di sekolah formal, tetapi di lembaga pendidikan internasional. Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan studi S2,” ungkap Galih Sulistyaningra.
Setelah mencoba menerapkan ilmu yang didapat dari S1, Galih memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Pada tahun 2018, ia mendapatkan beasiswa LPDP untuk belajar di University College London (UCL) dengan jurusan Pendidikan, Perencanaan, Ekonomi, dan Pembangunan Internasional.
Ia memilih jurusan ini untuk lebih memahami kebijakan pendidikan. Namun, setelah pulang ke Indonesia, Galih menyadari bahwa pendidikan yang baik dimulai dari ruang kelas. Dari sinilah ketertarikan Galih untuk menjadi guru SD muncul.
“Waktu S1, saya belum berkesempatan mengajar di sekolah formal. Namun, saat kuliah S2, saya menyadari bahwa perubahan harus dimulai dari kelas. Kebijakan yang baik tidak akan berarti jika guru yang menjalankannya tidak berkualitas.
Dari situ, saya merasa terpanggil untuk mengabdi sebagai guru SD sebelum mengejar peluang di bidang pendidikan lainnya,” jelasnya.
Setelah menyelesaikan studi S2 di Inggris, Galih mengikuti tes CPNS. Meskipun tidak terlalu ambisius, ia berhasil menjadi guru di salah satu SD negeri di Jakarta.
Ia diangkat pada tahun 2020 dan untuk pertama kalinya mengajar sebagai guru kelas 1 SD. Ia langsung dihadapkan pada sistem pembelajaran daring akibat pandemi, yang memerlukan penyesuaian. Kini, setelah hampir empat tahun mengajar, Galih mengajar di kelas 4 SD.
Bagi Galih, menjadi guru SD, terutama di sekolah negeri, tidaklah mudah. Salah satu tantangan utama adalah ketika orangtua sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah dan guru. Menurutnya, peran orangtua sangat penting dalam membentuk karakter anak.
Belum lagi, guru SD harus mengajar berbagai pelajaran dan tetap termotivasi untuk belajar.
“Meskipun saya mengajar di tengah kota Jakarta, masih banyak siswa dari keluarga yang kurang menyadari pentingnya pendidikan, bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga dalam keterlibatan orangtua. Padahal, orangtua harus terlibat dalam pendidikan anak di rumah, bukan hanya menyerahkan semuanya kepada guru. Di sekolah negeri, masih banyak anak yang kurang fokus, contohnya anak kelas 1 yang masih jauh dari harapan dalam mengenal huruf,” tambah Galih.
Meskipun demikian, Galih tidak menyerah. Ia berusaha menciptakan suasana kelas yang nyaman agar siswa termotivasi untuk belajar. Ia menerapkan pembelajaran yang melibatkan banyak interaksi dengan siswa dan relevansi isu-isu terkini ke dalam materi pembelajaran.
“Jadi, tidak hanya fokus pada buku pelajaran, tetapi juga mendekati siswa dengan mengaitkan isu yang relevan ke dalam materi, seperti PKN. Dengan cara ini, rasa ingin tahu dan rasa penasaran siswa akan muncul,” ujarnya.
Metode pembelajaran ini terinspirasi dari pengalamannya saat studi di Inggris. Ia merasa bahwa pendidikan di Indonesia cenderung lebih banyak mengandalkan hafalan dibandingkan diskusi yang dapat merangsang pemikiran kritis dan percaya diri anak. “Diskusi di kelas membuat pemikiran anak lebih kreatif dan mampu berpikir di luar kebiasaan, bukan sekadar menghafal atau mencatat,” tuturnya.
Walaupun menjadi guru bukanlah tugas yang mudah, mengingat harus memahami berbagai emosi siswa, Galih merasa bahwa dari profesi ini, ia belajar banyak tentang persiapan dan cara memahami anak, terutama kini ketika ia sudah menjadi seorang ibu.
Galih juga berbagi tips agar tetap tidak stres, yaitu dengan membuka diri untuk berdiskusi dengan guru lain yang lebih berpengalaman serta memanfaatkan media sosial.
Galih memiliki platform bernama Bekal Pendidik yang ia dirikan sebelum menjadi guru dan masih aktif dikerjakan hingga saat ini. Platform ini dibuat untuk membantu calon guru agar lebih siap terjun ke lapangan dengan materi-materi yang tidak diajarkan di kampus.
“Ada banyak hal penting yang tidak diajarkan di bangku sekolah bagi seorang guru. Itulah sebabnya Bekal Pendidik hadir untuk memfasilitasi diskusi-diskusi tematik bagi calon guru,” paparnya.- ***

