Sosok

François Bayrou, Intelektual Desa dengan Visi Politik Nasional

×

François Bayrou, Intelektual Desa dengan Visi Politik Nasional

Sebarkan artikel ini
FotoJet 4 15
Perdana Menteri Prancis yang baru diangkat François Bayrou (tengah). (Foto: Stéphanie Lecocq/Reuters)

KITAINDONESIASATU.COM – François Bayrou, Perdana Menteri Prancis yang baru, menggambarkan dirinya sebagai sosok sederhana dari pedesaan.

Sebagai “putra daerah,” ia dikenal dengan kehidupan di desa, mengendarai traktor, dan menjadi peternak kuda ras murni.

Bayrou, yang telah tiga kali mencalonkan diri sebagai presiden, menekankan bahwa latar belakang pedesaan dan pendekatan politik sentrisnya mendorongnya untuk mencari jalan tengah antara kubu kiri dan kanan.

Bayrou lahir dari keluarga petani di Béarn dan memiliki karier politik lebih dari empat dekade.

Ia menjaga hubungan erat dengan kampung halamannya di kaki Pegunungan Pyrenees, barat daya Prancis.

Ia tumbuh di desa kecil Bordères, antara Lourdes dan Nay. Sebagai seorang Katolik dan ayah dari enam anak, ia masih memiliki rumah di desa itu dan menjabat sebagai wali kota Pau, kota yang berjarak 20 km dari tempat kelahirannya.

Pria berusia 73 tahun ini membangun citra sebagai intelektual dari desa.

Meski sempat gagap di masa kecil, –dokter memprediksi ia tidak akan pernah berbicara di depan umum– ia berhasil menjadi guru, politisi, dan bahkan penulis biografi tentang raja Prancis Henri IV.

Kariernya mencakup posisi sebagai Menteri Pendidikan di bawah pemerintahan François Mitterand dan Jacques Chirac.

Bayrou menarik perhatian publik pada kampanye presiden 2002 ketika ia menampar seorang anak yang mencoba mencuri dompetnya, yang justru meningkatkan popularitasnya.

Sebagai ketua partai sentris MoDem, Bayrou telah menjadi sekutu penting Presiden Emmanuel Macron sejak 2017.

Dukungan Bayrou dianggap berkontribusi pada kemenangan Macron dalam pemilihan presiden. Meski awalnya mengkritik latar belakang Macron sebagai bankir, Bayrou kemudian mendukungnya, termasuk upaya mendorong representasi proporsional dalam politik Prancis.

Bayrou sempat menjabat sebagai Menteri Kehakiman di bawah Macron pada 2017, tetapi mundur setelah tuduhan penggelapan dana terhadap dirinya dan partainya muncul.

Meski ia akhirnya dibebaskan pada awal tahun ini, pengadilan ulang terkait kasus tersebut masih menanti keputusan banding.

Setelah mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada 2002, 2007, dan 2012, Bayrou kemungkinan akan mencoba lagi.

Ia menyatakan bahwa misinya dalam politik adalah berbicara dengan semua pihak tanpa memandang perbedaan partai.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *