Sosok

Waketum Kadin Agung Suryamal: Pengusaha Harus Cerdik Pilih Strategi Hadapi Badai Ekonomi Saat Ini

×

Waketum Kadin Agung Suryamal: Pengusaha Harus Cerdik Pilih Strategi Hadapi Badai Ekonomi Saat Ini

Sebarkan artikel ini
kadin 8
Pengusaha asal Jabar yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia untuk wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Banten, Agung Suryamal, bersama mantan Wapres Jusuf Kalla. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Pengusaha asal Jabar yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia untuk wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Banten, Agung Suryamal, angkat bicara dengan menyikapi badai ekonomi akhir akhir ini.

Menurut Agung, para pengusaha saat ini sedang menghadapi beberapa tantangan serius terutama mereka yang bergerak di sektor manufaktur maupun perdagangan.

Pelemahan rupiah, tingginya biaya produksi, suku bunga yang masih relatif mahal, perlambatan daya beli masyarakat, hingga ketidakpastian ekonomi global membuat tekanan berlapis terhadap pelaku usaha di berbagai sektor. Banyak pengusaha mengalihkan perhatian yakni tidak lagi berfokus pada ekspansi agresif, melainkan menjaga keberlangsungan bisnis di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Lebih lanjut Ketua Forum Komunikasi Pengusaha Jabar (Forkompenja) ini mengatakan, beberapa tantangan yang dihadapi pengusaha saat ini antara lain biaya produksi yang terus meningkat. Pelemahan rupiah yang membuat harga bahan baku impor, mesin produksi, komponen elektronik, hingga bahan kimia industri menjadi lebih mahal. Kondisi ini paling terasa di sektor manufaktur, farmasi, otomotif, tekstil, dan elektronik yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.

Masalahnya, tidak semua perusahaan dapat langsung menaikkan harga jual karena daya beli konsumen juga sedang tertekan. Akibatnya margin keuntungan semakin menipis.

Kemudian, daya beli masyarakat yang kian melemah. Pelaku usaha ritel, makanan-minuman, properti, hingga otomotif menghadapi tantangan dari sisi permintaan. Konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja dan cenderung menunda pembelian barang sekunder maupun tersier. Fenomena ini terlihat dari berbagai laporan yang menunjukkan perlambatan penjualan di sejumlah sektor meskipun pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di atas 5 persen.

Selain dua tantangan di atas, kata Agung, tekanan arus kas dan pembiayaan di mana banyak perusahaan menghadapi biaya pinjaman yang masih tinggi, sementara kebutuhan modal kerja meningkat akibat kenaikan harga bahan baku.

Dan, tantangan lain yang pengaruhnya juga besar yaitu persaingan global yang semakin ketat. Selain menghadapi tantangan domestik, perusahaan Indonesia juga harus bersaing dengan negara-negara lain yang menawarkan biaya produksi lebih rendah, infrastruktur lebih efisien, atau insentif investasi yang lebih menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *